10 Tahun Setia, Suami Antar Istri PP Pacitan-Jogja demi Cuci Darah
PlatMerah.com, Yogyakarta – Setiap Rabu dan Sabtu dini hari, Suharto menyalakan sepeda motor di halaman rumahnya di Pacitan, Jawa Timur. Istrinya, Siti Rohmatin, sudah siap dengan map berisi dokumen pengobatan. Mereka memulai perjalanan sekitar 4,5 jam menuju Klinik Hemodialisis Nitipuran di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk menjalani cuci darah.
Rutinitas ini telah dijalani hampir sepuluh tahun. Lebih dari seribu kali Siti menjalani hemodialisis untuk bertahan hidup setelah didiagnosis gagal ginjal kronis akibat hipertensi yang tidak terkontrol. Perjalanan panjang ini bukan tanpa alasan; terapi harus dilakukan rutin agar kondisinya tidak memburuk.
Perjuangan Melawan Gagal Ginjal
Pada 2010, Siti mulai merasakan gejala seperti mudah lelah, tubuh bengkak, dan mual. Ia tidak menyadari bahwa hipertensi yang dideritanya telah merusak fungsi ginjal. “Gagal ginjal dari hipertensi. Tiba-tiba tinggi, nggak pernah dicek sebelumnya. Tahu-tahu sudah gagal ginjal. Dulu lemas, bengkak, mual,” tuturnya.
Vonis gagal ginjal kronis mengubah hidup pasangan ini. Hemodialisis menjadi bagian dari kehidupan Siti. Suharto menerima kenyataan ini dengan lapang dada. “Kalau dokter bilang ini untuk selamanya, ya mau bagaimana lagi. Kita harus berjuang. Terus berjuang,” ujarnya.
Dukungan BPJS Kesehatan
Sebelum menjadi peserta JKN, biaya sekali terapi mencapai Rp700 ribu. Tabungan mereka terkuras. Dokter kemudian menyarankan menggunakan BPJS Kesehatan. Sejak itu, kekhawatiran biaya berganti menjadi kepastian menjalani terapi. “Mungkin saya tidak sampai di sini kalau tidak ada BPJS. Bayangkan saja, sudah 10 tahun, entah berapa biayanya. Saya sangat bersyukur sekali dengan adanya BPJS,” ungkap Siti.
Pimpinan Klinik Hemodialisis Nitipuran, Sari Murnani, menegaskan pentingnya peran BPJS. “Peran BPJS sangat penting karena terapi ini harus dijalani rutin. Saya tidak membayangkan kalau pasien harus membayar sendiri,” katanya. BPJS Kesehatan mencatat pembiayaan penanganan gagal ginjal sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp13 triliun dan dimanfaatkan sekitar 640 ribu jiwa.
Klinik Seperti Keluarga
Hampir sepuluh tahun menjalani perawatan, Siti dan Suharto merasa klinik dan petugasnya seperti keluarga. “Sudah kayak keluarga sama petugas-petugas di sini. Sama pasien-pasien juga,” kata Siti. Klinik ini melayani pasien tidak hanya dari DIY, tetapi juga Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Perjalanan panjang ini akan terus berlanjut. Setiap Rabu dan Sabtu, Suharto akan kembali menyalakan sepeda motor, dan Siti akan membawa map dokumennya. Bukan karena mereka terbiasa dengan penyakit, melainkan karena harapan untuk terus hidup bersama.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













