Pascagempa NTT, Ikan Oarfish Sepanjang 4 Meter Terdampar di Pantai Pink Lombok: Fakta dan Mitos

Pascagempa NTT, Ikan Oarfish Sepanjang 4 Meter Terdampar di Pantai Pink Lombok: Fakta dan Mitos

PlatMerah.com, Lombok Timur – Seekor ikan oarfish sepanjang sekitar 4 meter ditemukan terdampar di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Selasa, 25 Agustus 2026. Fenomena ini menarik perhatian masyarakat karena ikan oarfish kerap disebut sebagai ‘ikan kiamat’ yang dipercaya sebagai pertanda bencana alam.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, Muslim, menyatakan kemunculan ikan oarfish yang hidup di laut dalam tersebut sangat langka dan diduga terkait dengan perubahan iklim serta perubahan suhu di perairan Samudera Hindia. Perubahan suhu ini, menurutnya, juga bisa dipengaruhi oleh fenomena alam seperti gempa bumi yang baru saja terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan magnitudo 7,7.

Fakta Ilmiah tentang Kemunculan Ikan Oarfish

Meskipun kemunculan ikan oarfish sering dikaitkan dengan mitos dan kepercayaan bahwa ikan ini pertanda akan terjadi bencana besar, para ahli menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah yang valid untuk mendukung hal tersebut. Dr. Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), menyatakan bahwa riset dari para ahli oseanografi dan seismologi, termasuk studi di Jepang, menunjukkan tidak ada hubungan sebab-akibat langsung antara perilaku ikan laut dalam dengan aktivitas gempa bumi atau bencana seismik.

Fenomena ikan oarfish muncul di pesisir lebih sering disebabkan oleh faktor biologis dan lingkungan seperti:

  • Perubahan suhu air laut yang membawa ikan ke perairan lebih dangkal.
  • Pergeseran arus laut yang mengangkat nutrisi dan organisme ke permukaan.
  • Kondisi fisik ikan yang sedang sakit, terluka, atau memasuki usia tua sehingga kemampuan berenangnya menurun.
  • Pengaruh arus laut yang membuat ikan lemah terbawa ke pesisir.

Pandangan Badan Riset dan Inovasi Daerah NTB

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) NTB, I Gede Putu Aryadi, menyatakan bahwa terdamparnya ikan oarfish di pesisir merupakan fenomena alamiah yang biasa terjadi dan bukan pertanda bencana. Ia menjelaskan bahwa faktor kesehatan, usia, dan cedera fisik seperti patah tulang dapat menyebabkan ikan kehilangan kemampuan berenang secara optimal dan akhirnya terdampar.

Selain faktor biologis, kondisi lingkungan seperti suhu air laut yang rendah, arah arus, dan gelombang juga memengaruhi apakah bangkai ikan sampai ke pantai atau tidak. Fenomena ini mirip dengan peristiwa terdamparnya paus yang kerap terjadi di wilayah Bima sebagai bagian dari dinamika alam.

Aryadi mengimbau masyarakat agar tidak mengaitkan kemunculan ikan oarfish dengan mitos hari kiamat atau bencana alam besar, melainkan menyikapi secara rasional berdasarkan kajian ilmiah yang valid.

Konteks Gempa Bumi dan Perubahan Iklim

Kemunculan ikan oarfish di Pantai Pink Lombok juga diduga berkaitan dengan perubahan iklim yang terjadi di Samudera Hindia. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim menyampaikan bahwa perubahan suhu air laut yang memicu kemunculan ikan ini bisa saja merupakan dampak dari gempa bumi yang baru saja terjadi di NTT. Wilayah selatan Indonesia, termasuk NTB dan NTT, berada di lempeng samudera yang sama, sehingga aktivitas gempa dapat memengaruhi kondisi laut di sekitarnya.

Meskipun demikian, Muslim menegaskan perlunya kajian ilmiah lebih lanjut untuk membuktikan kaitan langsung antara kemunculan ikan oarfish dengan gempa bumi. Ia juga mengingatkan bahwa mitos tentang ikan oarfish sebagai pertanda bencana belum dapat dibuktikan secara ilmiah.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa perubahan lingkungan dan faktor biologis memainkan peranan penting dalam dinamika kehidupan laut, sementara mitos terkait bencana harus disikapi dengan hati-hati dan berdasarkan fakta ilmiah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup