Koster Dorong Pemanfaatan EBT Laut, Bali menuju Mandiri Energi
Bali Menuju Kemandirian Energi: Strategi Baru dengan EBT Laut
Plat Merah – Denpasar, 14 Juli 2026 — Gubernur Bali Wayan Koster kembali menegaskan tekadnya untuk mengubah Bali menjadi pulau yang mandiri energi. Upaya tersebut diperkuat melalui pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) laut, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) di Selat Nusa Penida. Langkah ini diambil sebagai respons atas ketergantungan Bali pada impor energi dari Jawa, yang saat ini mencapai 30% dari total kebutuhan listrik provinsi.
Risiko Ketergantungan Energi dan Krisis Pertumbuhan
Bali, yang terkenal sebagai destinasi pariwisata global, menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan energi. Kebutuhan listrik di pulau ini mencapai 1.300–1.400 MW, dengan 400 MW masih bergantung pada jaringan interkoneksi dari PLTU Paiton, Jawa Timur. Pertumbuhan ekonomi yang didorong sektor pariwisata dan industri mengakibatkan konsumsi energi meningkat 8% per tahun. Ketergantungan ini dianggap riskan karena rentan terhadap gangguan pasokan dan fluktuasi harga energi.
Inisiatif Terpadu untuk EBT Laut
Koster telah menerapkan berbagai strategi untuk mempercepat transisi energi, termasuk:
- PLTS Atap Massal: Pemenuhan kewajiban Pergub Bali No. 45/2019 dengan menginstalasi panel surya di 85% gedung pemerintah, hotel, dan industri pada 2025.
- Pembangunan PSEL: Konversi sampah menjadi energi listrik di daerah perkotaan seperti Denpasar dan Tabanan, menghasilkan 25 MW per tahun.
- Kolaborasi Teknologi: Kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Maryland University untuk kajian PLTAL di Selat Nusa Penida.
Potensi PLTAL Nusa Penida: Data Strategis
Studi terbaru mengungkap bahwa Selat Nusa Penida memiliki potensi energi arus laut mencapai 376,8 MW. Potensi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik Nusa Penida secara mandiri dan menyuplai 15% kebutuhan energi Bali. Berikut tabel perbandingan potensi EBT di Bali:
| Jenis EBT | Potensi (MW) | Contribution (%) |
|---|---|---|
| PLTAL Nusa Penida | 376,8 | 27% |
| PLTS Atap | 120 | 9% |
| PSEL | 25 | 2% |
| Lainnya | 250 | 18% |
Kerja Sama Nasional dan Internasional
Proyek PLTAL ini melibatkan ekspertis dari Maryland University, yang telah mengembangkan teknologi arus laut di Laut Virginia, Amerika Serikat. Prof. Dwi Susanto, peneliti utama, menyatakan bahwa teknologi ini sangat cocok untuk kondisi selat di Indonesia. Dirjen Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kartika Listriana, menilai inisiatif Bali dapat menjadi contoh implementasi EBT laut di kawasan lain.
Tantangan dan Solusi
Implementasi PLTAL bukan tanpa hambatan. Berikut tantangan utamanya:
- Kapasitas Investasi: Biaya awal konstruksi PLTAL mencapai USD 2-3 juta per MW. Solusi: Kemitraan publik-swasta dan pinjaman berbasis iklim.
- Dampak Lingkungan: Pengaruh arus laut terhadap ekosistem marin. Solusi: Studi kelayakan lingkungan dan desain modular.
- Kepatuhan Regulasi: Perlu revisi Permen ESDM No. 18/2023 untuk mempercepat persetujuan izin. Solusi: Inisiatif khusus dari Kementerian ESDM.
Implikasi Jangka Panjang
Jika sukses, proyek ini akan mengurangi kerentanan energi Bali sebesar 70% dalam 10 tahun. Manfaat lainnya:
- Penurunan emisi CO₂ sebesar 500.000 ton per tahun.
- Penyerapan tenaga kerja hingga 2.000 orang di sektor konstruksi dan operasional.
- Penguatan citra Bali sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan.
- Penghematan USD 150 juta per tahun dari biaya impor energi.
Kronologi Kebijakan Bali Mandiri Energi
| Tahun | Inisiatif |
|---|---|
| 2019 | Terbitnya Pergub No. 45/2019 tentang Bali Energi Bersih. |
| 2021 | Peluncuran program PLTS Atap massal di 50 kantor pemerintah. |
| 2024 | Operasional PSEL pertama di Denpasar, menghasilkan 10 MW. |
| 2025 | Kajian teknis PLTAL Nusa Penida oleh ITB dan Maryland University. |
| 2026 | FGD Implementasi EBT Laut dan persiapan tahap konstruksi. |
Langkah Koster menunjukkan komitmen jangka panjang untuk memposisikan Bali sebagai pusat inovasi energi terbarukan di Asia Tenggara. Dengan menggabungkan teknologi inovatif, kolaborasi lintas sektor, dan kebijakan pro-lingkungan, Bali berpotensi menjadi model kemandirian energi berkelanjutan yang dapat ditiru daerah lain di Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













