Iran Tegaskan Bagian Utama Kesepahaman dengan AS Hampir Final, Tuding Washington Berulang Kali Rusak Proses

Iran Tegaskan Bagian Utama Kesepahaman dengan AS Hampir Final, Tuding Washington Berulang Kali Rusak Proses

Plat Merah – Teheran – Iran kembali menegaskan bahwa sebagian besar poin utama dalam draf kesepahaman dengan Amerika Serikat telah diselesaikan, namun Washington dinilai terus merusak proses diplomatik dengan sikap kontradiktif dan aksi militer. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam konferensi pers di Teheran, Kamis (11/6/2026) malam, menyatakan bahwa secara substansi teks perjanjian hampir rampung. “Bagian utama dari teks kesepahaman telah diselesaikan. Masalahnya adalah sikap Amerika Serikat yang kontradiktif selalu menimbulkan gejolak dan gangguan dalam proses ini,” ujar Baghaei seperti dikutip Press TV.

Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa poin-poin akhir kesepakatan telah disetujui oleh semua pihak termasuk Israel, Arab Saudi, dan negara-negara kawasan lainnya. Trump bahkan mengaku membatalkan serangan besar terhadap Iran setelah rancangan disetujui oleh “tingkat tertinggi” kepemimpinan Iran. Namun, Teheran dengan tegas membantah klaim tersebut. Kantor berita Iran, Tasnim, mengingatkan publik agar tidak mudah percaya pada pernyataan Trump, karena dalam dua bulan terakhir ia telah mengumumkan kesepakatan sebanyak 38 kali tanpa realisasi.

“Sampai Iran mengumumkan masalah potensi kesepahaman ini, berita apa pun dari Trump mengenai subjek ini harus dianggap sama dengan pesan-pesan sebelumnya,” tulis Tasnim. Senada, Baghaei menegaskan bahwa Iran belum mengambil keputusan final. “Sejauh ini, Iran belum mencapai kesimpulan akhir mengenai kesepakatan tersebut,” katanya.

Iran menyebut ‘bagian utama’ kesepahaman dengan AS telah diselesaikan, tapi Washington merusaknya melalui perubahan posisi yang tiba-tiba dan tuntutan baru yang tidak realistis. Baghaei mencontohkan bahwa sejak gencatan senjata April lalu, AS dan Israel berulang kali melanggar kesepakatan, termasuk serangan terhadap infrastruktur di selatan Iran dan dua reservoir air di Sirik. “Di satu sisi mereka berbicara tentang diplomasi, tetapi di sisi lain mereka menggunakan kekerasan dan melakukan tindakan ilegal,” tambahnya.

Ketegangan juga meluas ke perairan internasional. Manajer kapal tanker MT Settebello, IOS Marine, menuduh Angkatan Laut AS bertanggung jawab atas tewasnya tiga pelaut India. Perusahaan tersebut membantah klaim bahwa kapal mengabaikan peringatan, dan menegaskan tidak ada komunikasi efektif sebelum serangan. Kapal itu digambarkan sebagai kapal dagang sipil yang tidak terkait dengan Iran.

Sementara itu, Iran tetap pada garis merahnya. Baghaei menegaskan bahwa Teheran tidak akan pernah menyerah pada tuntutan yang tidak sah. “Iran telah membuktikan dalam praktik bahwa garis merahnya adalah kepentingan dan kesejahteraan rakyat Iran. Dalam hal ini sama sekali tidak akan ada kompromi,” ujarnya. Ia juga mengonfirmasi bahwa mediator tetap aktif, namun proses terhambat oleh agresi AS.

Di tengah kebuntuan, Iran menyebut ‘bagian utama’ kesepahaman dengan AS telah diselesaikan, tapi Washington merusaknya dengan aksi militer dan perubahan sikap. Pernyataan ini memperkuat posisi Iran bahwa diplomasi hanya akan berhasil jika AS konsisten dan menghentikan tindakan agresif. Iran menyebut ‘bagian utama’ kesepahaman dengan AS telah diselesaikan, tapi Washington merusaknya—sebuah pesan yang terus diulang Teheran untuk menekankan keseriusan mereka dalam negosiasi, namun juga kekecewaan terhadap perilaku Amerika.

Kesimpulannya, meskipun ada kemajuan dalam perumusan teks, ketidakpercayaan antara kedua pihak masih tinggi. Iran bersikeras bahwa kesepakatan hanya mungkin tercapai jika AS menghentikan pelanggaran dan tuntutan yang tidak realistis. Dunia kini menanti langkah selanjutnya, apakah Washington akan mengubah pendekatan atau justru memperburuk krisis.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup