Bikin Hati Adem! Momen Haru Romo Katolik Gendong Kyai Khos di Banyuwangi, Minum Segelas Berdua
Plat Merah – Bikin hati adem momen haru romo Katolik gendong kyai khos di Banyuwangi, minum segelas berdua [titlebase] menjadi pemandangan yang menghangatkan hati. Peristiwa ini terjadi di Pondok Pesantren Mansyaul Huda, Banyuwangi, pada Minggu malam (14/6/2026). Romo Damianus Fadjar Tedjo Soekarno, Pastor Paroki St. Paulus Kraksaan, Probolinggo, datang mengenakan jubah putihnya dan langsung memeluk erat serta menggendong KH Fathulloh Suyuti Toha, ulama kharismatik berusia 85 tahun. Momen ini bukan sekadar basa-basi, melainkan tradisi pertemuan mereka: setiap kali bertemu, Romo Fadjar yang lebih muda wajib menggendong Kyai Suyuti. Kerinduan setelah 10 tahun tak berjumpa terpancar jelas dari wajah kedua tokoh beda agama ini.
Bikin hati adem momen haru romo Katolik gendong kyai khos di Banyuwangi, minum segelas berdua [titlebase] tidak berhenti di pelukan. Keakraban mereka berlanjut ke ruang makan kecil di dekat dapur. Di sana, mereka duduk saling memunggungi sambil berseloroh dan bercanda, namun tetap menyantap makanan bersama. Yang lebih mengharukan, keduanya tak ragu meminum air dari satu gelas yang sama. Tindakan sederhana ini menjadi simbol toleransi yang nyata, menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi persaudaraan sejati. Kyai Suyuti tampak sangat menikmati cara Romo Fadjar melayaninya malam itu.
Bikin hati adem momen haru romo Katolik gendong kyai khos di Banyuwangi, minum segelas berdua [titlebase] juga mengajarkan bahwa dapur dan ruang makan bisa menjadi kunci moderasi beragama. Di pondok pesantren, ruang makan Kyai adalah tempat sakral bagi santri. Namun, malam itu ruang tersebut menjadi saksi bisu persahabatan lintas iman yang tulus. Kedua tokoh ini menunjukkan bahwa moderasi beragama bukanlah teori, melainkan praktik hidup sehari-hari yang penuh cinta dan saling menghormati. Momen ini menjadi contoh nyata bagaimana perbedaan dapat dirangkul dalam bingkai kebersamaan.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa kerukunan beragama bisa diwujudkan dengan aksi sederhana seperti berpelukan, berbagi makanan, dan minum dari gelas yang sama. Di tengah isu intoleransi yang kerap muncul, Banyuwangi kembali menghadirkan secercah harapan. Toleransi yang ditunjukkan Romo Fadjar dan Kyai Suyuti layak menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Indonesia. Semoga momen seperti ini semakin sering terjadi, memperkuat persatuan bangsa yang beragam.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











