Rupiah Diprediksi Kembali Melemah, Ini Faktor Pemicu di Balik Tekanan Nilai Tukar

Rupiah Diprediksi Kembali Melemah, Ini Faktor Pemicu di Balik Tekanan Nilai Tukar

Plat Merah – Rupiah diprediksi kembali melemah, apa penyebabnya? Pertanyaan ini kembali mengemuka di tengah gejolak pasar keuangan global. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan bergerak fluktuatif dengan potensi penutupan melemah pada perdagangan Senin (15/6) setelah sebelumnya menguat 128 poin ke Rp 17.860 per dolar AS. Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa pergerakan rupiah dipengaruhi sentimen negatif dan positif dari eksternal maupun internal.

Sentimen eksternal utama berasal dari konflik geopolitik Timur Tengah yang masih memanas serta rilis data inflasi Amerika Serikat. Data harga konsumen AS pada Mei lalu tercatat naik 4,2 persen, tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan kembali mengetatkan kebijakan moneternya, dengan pasar memperkirakan sekitar 60 persen kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember mendatang. Tekanan dari eksternal inilah yang membuat rupiah diprediksi kembali melemah, apa penyebabnya? Jawabannya terletak pada ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed yang hawkish.

Di sisi internal, Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,0 persen pada 2026, lebih tinggi dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar 4,7 persen. Proyeksi ini mencerminkan kinerja kuartal pertama yang lebih kuat dari perkiraan. Namun, optimisme tersebut belum cukup untuk menahan tekanan terhadap rupiah. Faktor domestik seperti perlambatan ekonomi global dan arus modal keluar juga turut berkontribusi. Fenomena yang dikenal sebagai home bias puzzle turut memperparah depresiasi rupiah. Home bias adalah kecenderungan investor untuk berinvestasi di aset negaranya sendiri, meskipun imbal hasil di luar negeri lebih tinggi. Hal ini menyebabkan net outflow modal asing dari instrumen keuangan dalam negeri, sehingga memperlemah nilai tukar.

Pertanyaan rupiah diprediksi kembali melemah, apa penyebabnya? juga dapat dijawab dengan melihat durasi pelemahan. Pelemahan sementara biasanya dipicu oleh sentimen global yang bersifat jangka pendek, sedangkan tekanan serius ditandai dengan arus keluar modal besar-besaran dan dampak inflasi yang meluas. Saat ini, kombinasi faktor eksternal dan internal membuat tekanan terhadap rupiah cenderung berlangsung lebih lama. Investor mulai mencermati fundamental ekonomi secara lebih mendalam, dan jika kepercayaan pasar menurun, pelemahan bisa berlanjut.

Kesimpulannya, rupiah diprediksi kembali melemah karena adanya tekanan dari eksternal (suku bunga AS, inflasi, geopolitik) dan internal (home bias, outflow modal). Meskipun proyeksi pertumbuhan Indonesia membaik, sentimen global masih mendominasi. Otoritas moneter perlu mewaspadai potensi pelemahan lebih lanjut dan siap mengambil langkah stabilisasi jika diperlukan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup