Gempa Bumi Sulteng: Korban Terdampak Meningkat Jadi 6.458 Jiwa, 79 Luka-Luka, Upaya Pemulihan Dipercepat

Gempa Bumi Sulteng: Korban Terdampak Meningkat Jadi 6.458 Jiwa, 79 Luka-Luka, Upaya Pemulihan Dipercepat

Plat Merah – Korban terdampak gempa bumi Sulteng bertambah jadi 6.458 jiwa, 79 orang luka-luka [titlebase] setelah gempa magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026. Guncangan tersebut menewaskan tiga orang, sementara ribuan keluarga kini harus berjuang mengatasi kerusakan rumah dan fasilitas umum.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, data terbaru yang dihimpun hingga Rabu malam 17 Juni mencatat tiga korban meninggal dunia, 15 orang mengalami luka berat, dan 64 orang luka ringan. Sebanyak 2.012 kepala keluarga atau 6.458 jiwa terdampak tersebar di Kabupaten Sigi, Donggala, Poso, Parigi Moutong, dan Kota Palu. Dari total tersebut, mayoritas berada di Kabupaten Sigi dengan 1.991 kepala keluarga atau 6.418 jiwa.

Detail luka-luka menunjukkan 15 korban mengalami luka berat, mayoritas di Kabupaten Sigi, dan 64 korban luka ringan yang tersebar di Sigi, Poso, dan Palu. Data ini menegaskan bahwa Korban terdampak gempa bumi Sulteng bertambah jadi 6.458 jiwa, 79 orang luka-luka [titlebase] menuntut penanganan medis yang cepat dan koordinasi lintas lembaga.

Kerusakan fisik yang teridentifikasi meliputi lebih dari 1.456 unit rumah rusak ringan, 112 rumah rusak sedang, dan 47 rumah rusak berat. Semua kerusakan rumah berada di Kabupaten Sigi, kecuali 63 unit ringan di Palu dan 15 unit di Poso. Berikut rincian kerusakan rumah:

  • Rumah rusak ringan: 1.456 unit (1.378 di Sigi, 63 di Palu, 15 di Poso)
  • Rumah rusak sedang: 112 unit (seluruhnya di Sigi)
  • Rumah rusak berat: 47 unit (seluruhnya di Sigi)

Kerusakan tidak hanya terbatas pada hunian. Fasilitas umum juga terdampak, antara lain 35 rumah ibadah, 10 fasilitas pendidikan, 11 gedung perkantoran, 2 jembatan, 5 UMKM, 4 hotel, 1 vila, 1 gedung pertemuan, dan 1 rumah adat. Sebagian besar kerusakan fasilitas berada di Kabupaten Sigi, menambah beban pemulihan infrastruktur.

Respons pemerintah daerah dan pusat berjalan cepat. Pemerintah Kabupaten Sigi menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, sementara BNPB menggelontorkan bantuan logistik, tenda, dan peralatan medis. Kepala BNPB Suharyanto dijadwalkan mengunjungi lokasi pada 19 Juni untuk mengawasi koordinasi antara TNI, Polri, dan tim relawan. Selain itu, BPBD Sulteng bersama instansi terkait terus memverifikasi data korban dan mengoptimalkan distribusi bantuan.

Di tengah upaya penanganan bencana, Bank Indonesia juga mengambil langkah kebijakan moneter dengan menaikkan BI-Rate 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Kebijakan ini dimaksudkan memperkuat stabilitas rupiah, yang secara tidak langsung mendukung pembiayaan pemulihan ekonomi pascabencana.

Secara keseluruhan, situasi di Sulawesi Tengah masih memerlukan perhatian berkelanjutan. Koordinasi antar lembaga, penyediaan bantuan medis, serta perbaikan infrastruktur menjadi prioritas utama. Dengan komitmen bersama, diharapkan korban dapat kembali ke kehidupan normal secepat mungkin.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup