BRK Syariah Perkuat Bisnis Emas, SDI Dibekali Sertifikasi Penaksir Rahn untuk Dongkrak Pertumbuhan

BRK Syariah Perkuat Bisnis Emas, SDI Dibekali Sertifikasi Penaksir Rahn untuk Dongkrak Pertumbuhan

Plat Merah – PEKANBARU – PT Bank Riau Kepri (BRK) Syariah menancapkan langkah strategis memperdalam bisnis emas sebagai motor utama pertumbuhan pembiayaan konsumer. Dalam gelaran Pelatihan dan Sertifikasi Penaksir Emas (Rahn) Batch I yang berlangsung di Ruang Hang Tuah Menara Dang Merdu, 18–19 Juni 2026, bank milik pemprov ini tidak sekadar membekali keterampilan teknis, tetapi menyuntikkan semangat baru bagi seluruh lini sumber daya insani (SDI) untuk menggarap potensi besar di sektor logam mulia.

Komitmen ini muncul di tengah tren positif emas sebagai instrumen investasi dan lindung nilai di kalangan masyarakat Riau, sekaligus semakin ketatnya persaingan antar lembaga keuangan syariah. BRK Syariah melihat rahn (gadai syariah) dan tabungan emas sebagai produk yang mampu menjawab kebutuhan likuiditas sekaligus akumulasi aset masyarakat, dan pelatihan ini menjadi fondasi percepatan ekspansi.

Mengapa Emas Jadi Pilar Baru BRK Syariah?

Pasar emas di Riau menyimpan ceruk besar. Provinsi ini dikenal sebagai salah satu sentra perdagangan emas di Sumatra, dengan budaya masyarakat yang menjadikan emas sebagai simpanan dan perhiasan. Di sisi lain, inklusi keuangan syariah terus meningkat, didorong oleh literasi yang lebih baik dan dukungan regulasi. Melihat data Bank Indonesia, permintaan emas fisik dan produk turunan syariah di wilayah Sumatra mengalami kenaikan konsisten sekitar 12–15% per tahun sejak 2023. Peluang inilah yang coba dimaksimalkan oleh BRK Syariah dengan tidak hanya mengandalkan petugas khusus, tetapi menjadikan seluruh insan bank sebagai duta emas.

Gelaran Pelatihan: Bukan Sekadar Teknis Penaksiran

Pelatihan batch pertama ini diikuti oleh Account Officer, Branch Manager, Kepala Cabang Pembantu, hingga pimpinan bagian bisnis dari seluruh wilayah Riau Daratan. Menjadikan Muamalat Institute sebagai mitra strategis, dengan narasumber Tubagus Mukhlisin, bukan tanpa alasan—Muamalat Institute memiliki rekam jejak panjang dalam pengembangan kompetensi perbankan syariah. Kehadiran langsung Plt Direktur Utama Helwin Yunus, Pemimpin Divisi MSDI Rina Mutia Zuhra, dan Pemimpin Divisi Konsumer Irsyadi Sukri menunjukkan keseriusan manajemen puncak.

Selama dua hari, peserta tidak hanya mengasah kemampuan menaksir kadar dan harga emas dengan akurat—mulai dari identifikasi fisik, penggunaan alat uji, hingga simulasi penaksiran barang gadai—tetapi juga dibekali strategi pemasaran kontemporer, penguatan branding, dan penyusunan rencana pengembangan bisnis rahn di unit kerja masing-masing. Helwin Yunus menekankan bahwa evaluasi harian dan perumusan strategi baru dari hasil evaluasi itu menjadi kunci, sekaligus mengajak seluruh peserta untuk berinovasi mempromosikan produk emas, baik tabungan emas maupun gadai emas.

Daftar Materi dan Kompetensi yang Dikembangkan

Materi UtamaDeskripsi SingkatMetode
Teknis Penaksiran EmasPengenalan karakteristik emas, penggunaan alat uji, penentuan karatase dan harga berdasarkan pasarTeori, praktik langsung, studi kasus
Strategi Pemasaran Produk EmasSegmentasi nasabah, teknik cross selling, pemanfaatan media digitalWorkshop, diskusi kelompok
Branding dan Literasi RahnMembangun citra rahn yang amanah dan kompetitif, literasi ke masyarakatPresentasi, role play
Penyusunan Rencana Bisnis RahnMenetapkan target, proyeksi, dan monitoring bisnis gadai emas di cabangPenugasan individual, evaluasi
Manajemen Risiko & Kepatuhan SyariahMitigasi risiko operasional dan kepastian akad sesuai fatwa DSN-MUIPemaparan, tanya jawab

Kronologi dan Strategi Bertahap

  • 18 Juni 2026: Hari pertama fokus pada pendalaman teknis penaksiran, pengenalan alat, dan simulasi penaksiran emas batangan maupun perhiasan. Peserta diuji langsung dengan berbagai sampel.
  • 19 Juni 2026: Hari kedua diisi materi pemasaran, branding, dan rencana bisnis. Plt Direktur Utama memberikan arahan langsung dan memotivasi peserta untuk menjadi motor penggerak bisnis emas di daerah masing-masing.
  • Pasca-pelatihan: Seluruh peserta langsung menyusun rencana aksi 30 hari ke depan, diikuti monitoring ketat oleh Divisi Konsumer. Targetnya, dalam satu bulan setelah sertifikasi, setiap unit kerja mampu meningkatkan jumlah transaksi rahn minimal 20%.

Potensi Emas dan Dampak bagi Masyarakat Riau

Dengan 100% SDI yang bersentuhan langsung dengan nasabah dibekali kemampuan penaksiran, BRK Syariah memperpendek rantai layanan gadai. Masyarakat yang selama ini harus menunggu petugas khusus atau mengantre panjang di kantor pusat, kini dapat memperoleh taksiran cepat di cabang maupun kantor pembantu. Ini memperkuat inklusi keuangan syariah di pelosok Riau Daratan, tempat emas kerap menjadi alat transaksi informal dan tabungan keluarga.

Dari sisi ekonomi makro, penguatan bisnis rahn dan tabungan emas memberi saluran alternatif bagi dana masyarakat yang biasanya tersimpan dalam bentuk fisik tanpa produktivitas. Emas yang digadaikan bisa menjadi sumber pembiayaan mikro bagi petani, pedagang kecil, atau kebutuhan mendesak tanpa harus menjual aset. Ini sejalan dengan misi ekonomi syariah untuk menjaga stabilitas dan keadilan.

Implikasi bagi Industri Perbankan Syariah

Inisiatif BRK Syariah ini memicu efek domino. Bank-bank syariah lain di Sumatra dan Indonesia kemungkinan akan mengikuti langkah serupa—meningkatkan kompetensi internal alih-alih mengandalkan tenaga outsourced. Sertifikasi penaksir akan menjadi standar baru bagi tenaga pemasar produk emas. Selain itu, kolaborasi dengan lembaga pelatihan seperti Muamalat Institute membuka peluang sertifikasi yang diakui secara nasional, meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan nasabah. Di sisi regulasi, OJK dapat terdorong untuk mendorong standarisasi kompetensi serupa di industri keuangan syariah secara lebih luas.

Dari kacamata persaingan, perluasan bisnis emas BRK Syariah juga menjadi jawaban atas agresivitas bank-bank nasional dan BPD lain yang mulai menggandeng platform digital untuk jual-beli emas. Dengan sentuhan personal dan pemahaman lokal yang kuat, BRK Syariah bisa mempertahankan loyalitas nasabah tradisional sekaligus menjaring generasi muda melalui tabungan emas digital yang mulai mereka rilis secara bertahap.

Langkah ini menjadi tonggak penting dalam transformasi BRK Syariah: dari sekadar bank pembangunan daerah menjadi pemain regional yang tangguh di pasar emas syariah. Sebagai penutup, Helwin Yunus menegaskan bahwa emas bukan lagi produk sampingan, melainkan ujung tombak yang harus diinternalisasi oleh setiap insan bank. “Kita tidak hanya mengejar target, kita sedang membangun budaya baru. Emas adalah masa depan BRK Syariah dan masa depan masyarakat Riau,” ujarnya, mengakhiri sesi dengan tepuk tangan para peserta yang antusias menyambut babak baru ini.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup