Petani Ranuyoso Lumajang Sukseskan Asta Cita

Petani Ranuyoso Lumajang Sukseskan Asta Cita

Plat Merah – Di tengah tantangan global terkait keamanan pangan, Polsek Ranuyoso, Polres Lumajang, membuktikan bahwa kolaborasi lintas sektor mampu memperkuat fondasi ketahanan pangan di tingkat desa. Sejak 2024, Program Asta Cita Presiden Joko Widodo telah menjadi fokus utama dalam memastikan kemandirian pangan nasional. Di Desa Ranuyoso, Kecamatan Ranuyoso, Lumajang, inisiatif ini diterjemahkan secara konkret melalui pendampingan langsung petugas Bhabinkamtibmas Polsek Ranuyoso kepada petani lokal.

Komitmen Polri di Tengah Tugas Baru

Kehadiran Polri di sektor pertanian bukan hal baru, namun peran aktif seperti saat ini merupakan strategi terbaru. Kapolsek Ranuyoso, AKP Sajito, menjelaskan bahwa tugas Polri kini meluas dari pengamanan ke wilayah pendampingan sosial-ekonomi. “Kami tidak hanya menjaga ketertiban, tetapi juga mendorong produktivitas pangan,” ujarnya. Dalam catatan Kementerian Pertanian, 75% desa di Indonesia masih mengalami defisit pasokan pangan, sehingga pendekatan desentralisasi seperti Asta Cita menjadi krusial.

IndikatorSebelum Asta CitaSetelah Pendampingan
Luas Lahan Terusik80% terbengkalai95% produktif
Produksi Jagung/Ha1,2 ton1,8 ton
Pendapatan PetaniRp 5 juta/bulanRp 7,5 juta/bulan

Model Pemerintahan yang Menyentuh Akar

Di Dusun Bulutangkur, Desa Ranuyoso, Bripda Akbar Yudha meninjau langsung kebun jagung milik H. Rizal, salah satu petani yang menjadi contoh program ini. Dengan pendampingan teknis, Rizal berhasil mengelola 1 hektar lahan menjadi kombinasi jagung, sayuran, dan pekarangan bergizi. “Saya diberi pelatihan pengelolaan pupuk organik dan hama alami. Hasilnya, produksi naik 40%,” kata Rizal. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Agroforestry yang dianjurkan FAO.

Sinergi Multi-Pihak yang Berkelanjutan

Suksesnya program ini dicapai melalui kolaborasi tiga pihak: Polri, Pemerintah Desa, dan masyarakat. Menurut Sajito, sinergi ini menghasilkan beberapa dampak positif:

  1. Ketersediaan pangan lokal meningkat 30% di 6 bulan pertama
  2. Partisipasi masyarakat dalam program pertanian naik 55%
  3. Keterlibatan pemuda di sektor pertanian meningkat 40%

Dalam wawancara terpisah, Camat Ranuyoso mengungkapkan bahwa pendekatan ini telah menginspirasi 8 desa tetangga untuk mengadopsi model serupa. “Inovasi ini menunjukkan bahwa solusi pangan bisa berasal dari desa,” katanya.

Tantangan dan Peluang Masa Depan

Sementara itu, tantangan tetap ada. Harga pupuk organik yang fluktuatif dan ketergantungan terhadap cuaca masih menjadi risiko. Namun, program ini membuka peluang baru, seperti:

  • Pengembangan ekowisata pertanian di kawasan tersebut
  • Penguatan kemitraan dengan BUMDes untuk distribusi hasil pertanian
  • Peningkatan akses ke teknologi pertanian berbasis IoT

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Polres Lumajang berencana melatih 100 petugas Bhabinkamtibmas di 10 kecamatan untuk menjadi “pengamat pertanian”. Langkah ini sejalan dengan target pemerintah mencapai swasembada pangan di 10 provinsi pada 2027.

Di akhir kunjungan, Bripda Akbar berpamitan dengan warga sambil bersalaman. Di balik seragam biru, tersembunyi semangat pemerintah yang berusaha membangun negeri dari pelosok. Apa yang terjadi di Desa Ranuyoso bukan hanya kisah petani dan polisi, melainkan harapan bahwa ketahanan pangan nasional bisa dimulai dari tindakan kecil di tangan rakyat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup