Curhat Pengusaha MBG di Bangkalan: Modal Rp2,5 M, Kini Dapur Libur saat Cicilan Bank Terus Berjalan

Curhat Pengusaha MBG di Bangkalan: Modal Rp2,5 M, Kini Dapur Libur saat Cicilan Bank Terus Berjalan

Plat Merah – Curhat pengusaha MBG di Bangkalan: Modal Rp2,5 M, kini dapur libur saat cicilan bank terus berjalan menjadi sorotan tajam di tengah gegap gempita program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai penggerak ekonomi daerah. Di Bangkalan, Madura, seorang pengusaha yang nekat menginvestasikan dana sebesar Rp2,5 miliar untuk membangun dapur sentral MBG kini harus gigit jari. Dapur yang seharusnya menjadi pusat produksi makanan bergizi bagi ribuan anak sekolah itu terpaksa libur karena kontrak dengan pemerintah belum juga terealisasi, sementara cicilan bank setiap bulan terus mengalir. Kisah ini menjadi cermin pahit dari implementasi program yang belum merata.

Di sisi lain, di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Gubernur Melki Laka Lena justru mengklaim program MBG mampu menjadi motor penggerak ekonomi berbasis produk lokal. Dalam rapat koordinasi Satgas MBG Kota Kupang, Jumat (26/6/2026), Melki menyebutkan potensi perputaran ekonomi dari program yang menyasar 107 ribu penerima manfaat mencapai Rp440 miliar. Ia mendorong optimalisasi produk lokal NTT untuk rantai pasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Namun, realitas di Bangkalan menunjukkan bahwa harapan besar itu belum tentu sampai ke tangan pelaku usaha kecil. Curhat pengusaha MBG di Bangkalan: Modal Rp2,5 M, kini dapur libur saat cicilan bank terus berjalan membuktikan bahwa program ini masih menghadapi kendala serius di tingkat pelaksanaan.

Pengusaha tersebut mengaku sudah mengajukan proposal dan mengikuti semua prosedur, tetapi hingga kini belum ada kejelasan kapan dapur akan beroperasi penuh. Ia harus menanggung biaya operasional dapur yang menganggur, termasuk gaji karyawan dan tagihan listrik. Sementara itu, cicilan pinjaman bank untuk investasi awal tetap berjalan. Kondisi ini memaksanya untuk mencari pinjaman tambahan demi menutup biaya sehari-hari. “Kami sudah berinvestasi besar, tapi belum ada kepastian. Dapur libur, cicilan tetap jalan. Ini sangat memberatkan,” keluhnya.

Fenomena Curhat pengusaha MBG di Bangkalan: Modal Rp2,5 M, kini dapur libur saat cicilan bank terus berjalan ini menjadi peringatan bagi pemerintah pusat dan daerah untuk memperbaiki sistem kontrak dan pembayaran. Program MBG yang bertujuan meningkatkan gizi masyarakat dan menggerakkan ekonomi harus diimbangi dengan kepastian hukum dan keuangan bagi para mitra. Tanpa itu, program yang mulia ini justru bisa menjerat pengusaha kecil dalam jeratan utang. Pemerintah daerah diharapkan segera menindaklanjuti keluhan ini dan memastikan dapur-dapur MBG di seluruh Indonesia beroperasi tanpa hambatan.

Kesimpulannya, keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari dampaknya terhadap pelaku usaha lokal. Kisah di Bangkalan menjadi pelajaran berharga bahwa transparansi dan ketepatan waktu dalam kontrak sangat vital. Jika tidak, Curhat pengusaha MBG di Bangkalan: Modal Rp2,5 M, kini dapur libur saat cicilan bank terus berjalan akan terus terulang di daerah lain, menggerus kepercayaan pengusaha terhadap program pemerintah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup