Karhutla di Ketapang, Warga Diduga Kehabisan Oksigen Sebelum Tewas Terbakar

Karhutla di Ketapang, Warga Diduga Kehabisan Oksigen Sebelum Tewas Terbakar

PlatMerah.com, Ketapang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jalan Poros Sungai Pelang-Tumbang Titi, Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menelan korban jiwa pada Selasa, 4 Agustus 2026. Seorang warga bernama Taufik Hidayat ditemukan meninggal dunia dengan kondisi tubuh hangus setelah diduga kehabisan oksigen dan terjebak dalam kepulan asap tebal serta kobaran api saat melintas di lokasi kebakaran.

Fakta Utama Kejadian Karhutla di Ketapang

  • Taufik Hidayat, warga Desa Sungai Besar, dilaporkan baru pulang kerja dan berusaha melintasi jalan yang diselimuti asap pekat akibat karhutla.
  • Korban diduga mengalami disorientasi hingga terjatuh dari kendaraannya di tengah kepulan asap tebal.
  • Kekurangan oksigen menyebabkan korban pingsan dan terjebak di antara kobaran api di sisi kanan dan kiri jalan.
  • Satu unit sepeda motor yang digunakan korban juga hangus terbakar.
  • Korban dievakuasi oleh tim gabungan Satgas Karhutla dan BPBD Ketapang ke rumah sakit setempat.

Penjelasan dari BPBD Ketapang

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ketapang, Yunifar Purwanto, membenarkan adanya korban jiwa akibat kebakaran tersebut. Yunifar menjelaskan kronologi berdasarkan laporan dari petugas di lapangan bahwa Taufik Hidayat mencoba melewati jalan yang penuh dengan kabut asap pekat. Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang sangat terbatas dan kekurangan oksigen, sehingga korban kehilangan kendali dan jatuh.

“Dari informasi yang kami dapat, saat itu beliau terjatuh, kemungkinan kekurangan oksigen hingga pingsan. Di sisi kanan dan kiri jalan itu terdapat kobaran api yang menyala besar. Akhirnya beliau meninggal dalam posisi terbakar,” jelas Yunifar.

Konteks dan Dampak Karhutla di Ketapang

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat menjadi masalah serius yang berulang setiap tahunnya, terutama saat musim kemarau. Karhutla tidak hanya merusak ekosistem dan lingkungan, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan jiwa bagi masyarakat sekitar. Asap tebal yang dihasilkan dapat mengakibatkan gangguan pernapasan dan kecelakaan lalu lintas, seperti yang dialami korban tersebut.

Pemerintah daerah melalui BPBD dan Satgas Karhutla terus melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan, termasuk patroli rutin dan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diimbau untuk segera melapor jika menemukan titik api untuk mencegah meluasnya kebakaran.

Upaya Penanganan dan Pencegahan

  • Evakuasi korban dan penanganan medis oleh petugas rumah sakit setempat.
  • Investigasi penyebab pasti kebakaran oleh pihak berwenang.
  • Patroli dan pengawasan intensif oleh Satgas Karhutla dan BPBD.
  • Imbauan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
  • Pelaporan cepat jika ditemukan titik api untuk penanganan dini.

Peristiwa tragis ini menjadi pengingat akan bahaya besar yang ditimbulkan oleh karhutla, baik bagi manusia maupun lingkungan. Upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat sangat penting untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup