Kebakaran Parit Diduga Berisi Limbah Pabrik di Deli Serdang, Warga Resah

Kebakaran Parit Diduga Berisi Limbah Pabrik di Deli Serdang, Warga Resah

Kebakaran Parit di Deli Serdang

PlatMerah.com, Deli Serdang – Sebuah kebakaran terjadi pada saluran parit di Dusun 15, Desa Sampali, Kecamatan Pematang Johar, Kabupaten Deli Serdang, Jumat (21/8) sekitar pukul 18.29 WIB. Api yang membakar parit tersebut berhasil dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran sekitar pukul 20.44 WIB tanpa menimbulkan korban jiwa atau luka-luka.

Saluran parit yang terbakar tersebut diduga tercemar oleh limbah pabrik yang berasal dari Kawasan Industri Medan (KIM). Limbah itu tampak berwarna hitam dan berminyak, yang menyebabkan api cepat membesar. Warga sekitar merasa resah akibat aroma limbah minyak yang menyengat dan pencemaran air bersih.

Fakta Utama dan Penanganan Kebakaran

Petugas Damkar Deli Serdang mengerahkan satu mobil pemadam dan regu dari pos Percut Sei Tuan untuk memadamkan api. Kepala Dusun 15, Rudianto, menyatakan belum mengetahui siapa pelaku pembakaran tersebut dan menyebut kebakaran ini sudah terjadi dua kali di lokasi yang sama.

Limbah yang menumpuk di parit diduga berasal dari dua pabrik di KIM, yakni pabrik keramik dan pabrik kontainer. Limbah tersebut menyebabkan saluran parit tersumbat dan berpotensi menimbulkan banjir serta bau tidak sedap yang mengganggu warga.

Pihak perusahaan telah turun ke lokasi dan melakukan pengerukan limbah dengan alat berat. Limbah yang terkumpul kemudian dibawa dan dibuang ke tempat lain untuk mengurangi pencemaran.

Resah Warga dan Dampak Lingkungan

Aroma limbah minyak yang menyengat telah dirasakan warga selama setahun terakhir, membuat mereka semakin tidak nyaman. Limbah tersebut tidak hanya menimbulkan bau, tetapi juga mencemari air bersih yang digunakan warga sehari-hari, menyebabkan air menjadi kuning dan berminyak.

Rudianto menyampaikan bahwa warga meminta agar saluran parit dibersihkan dan diperbaiki dengan beton atau drainase yang lebih tinggi agar tidak mudah tersumbat dan menimbulkan banjir. Selain itu, warga juga meminta penyediaan air bersih yang memadai.

Jika perusahaan tidak bertanggung jawab atas limbahnya, warga berencana menutup saluran parit tersebut. Dampak pencemaran juga dirasakan oleh para petani, karena air yang tercemar menyebabkan tanaman padi mereka mati.

Pengakuan Warga terhadap Dampak Limbah

Nur Hasanah (48), salah satu warga yang rumahnya terdampak, mengaku sangat resah dengan kondisi tersebut. Air di rumahnya menjadi berminyak dan aroma limbah yang menyengat menyebabkan ia dan keluarganya merasakan sesak napas. Karena bau yang terus-menerus, mereka terpaksa menutup pintu rumah sepanjang waktu.

Suami Nur, Rusman (52), menambahkan bahwa limbah tersebut sudah mengalir selama puluhan tahun, namun masalah utama muncul saat saluran parit tersumbat sehingga bau dan pencemaran semakin parah. Ia juga pernah melaporkan kondisi parit yang tersumbat, namun pembersihan hanya dilakukan sesekali dan tidak rutin.

Langkah Selanjutnya

Rudianto dan perangkat desa bersama Dinas Lingkungan Hidup berencana mengadakan rapat untuk membahas pertanggungjawaban dari pihak perusahaan dan mencari solusi agar pencemaran dan gangguan yang dirasakan warga dapat diatasi secara tuntas.

Warga berharap pihak perusahaan dan pemerintah dapat bekerja sama untuk membersihkan limbah, memperbaiki saluran parit, serta menyediakan air bersih yang layak guna meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup