Pasar Asia Terombang-ambing usai The Fed Tahan Suku Bunga, Tanda-tanda Kenaikan September

Pasar Asia Terombang-ambing usai The Fed Tahan Suku Bunga, Tanda-tanda Kenaikan September

Plat Merah – Pasar keuangan Asia bergerak mixed pada Kamis (30/7/2026) setelah bank sentral Amerika Serikat, the Fed, memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 3,5–3,75 persen. Keputusan yang diumumkan pada Rabu malam waktu AS itu diwarnai perpecahan di internal Federal Open Market Committee (FOMC), dengan tiga anggota memberikan suara untuk kenaikan suku bunga guna mengendalikan inflasi yang kembali meningkat.

Keputusan the Fed yang hawkish namun tanpa aksi ini langsung memicu volatilitas di pasar global. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua dekade, mencapai 4,7 persen, sementara indeks saham Wall Street terkoreksi. Di Asia, indeks acuan seperti Nikkei, Hang Seng, dan Kospi bergerak mixed, dengan sektor semikonduktor menjadi salah satu pemberat utama.

Di India, indeks Sensex dan Nifty sempat berayun antara zona hijau dan merah, meskipun ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya. VK Vijayakumar, Chief Investment Strategist Geojit Investments, menilai bahwa perpecahan di the Fed mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. “Ini adalah sinyal bahwa the Fed mungkin akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang,” ujarnya.

Probabilitas kenaikan suku bunga pada September saat ini diperkirakan mencapai 57 persen, menurut data dari JM Financial. Analis memperkirakan bahwa the Fed akan tetap bergantung pada data (data-dependent) dalam menentukan langkah selanjutnya, mengingat inflasi yang masih tinggi dan ketidakpastian ekonomi global.

Dampak dari sikap the Fed yang hawkish juga terasa di pasar valuta asing. Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama, memberikan tekanan pada komoditas dan aset emerging market. Ankita Pathak, Head of Global Investments di Ionic Asset, memperingatkan bahwa jika the Fed benar-benar mengetatkan kebijakan, dolar AS akan semakin perkasa dan berpotensi memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang.

Di sisi lain, investor India disarankan untuk tetap waspada terhadap pergerakan imbal hasil obligasi AS, dolar, dan harga minyak mentah. Rajesh Palviya, Head of Research Axis Direct, menyatakan bahwa dampak langsung terhadap pasar India lebih bersifat sentimen, namun arus dana asing bisa menjadi volatil. Data menunjukkan bahwa aliran dana asing bersih ke India positif sebesar Rs 9.613 crore pada Juli, setelah empat bulan mengalami tekanan jual. Namun, tren positif itu bisa berbalik jika the Fed benar-benar menaikkan suku bunga.

Di tengah ketidakpastian ini, pasar saham India masih menunjukkan fundamental domestik yang kuat, dengan prospek pendapatan yang resilien dan likuiditas yang memadai. Namun, investor tetap disarankan untuk memantau perkembangan kebijakan the Fed dan indikator ekonomi AS lainnya.

Keputusan the Fed yang menahan suku bunga namun memberikan sinyal hawkish menciptakan ketidakpastian baru di pasar global. Dengan probabilitas kenaikan suku bunga yang meningkat, investor harus bersiap menghadapi potensi volatilitas jangka pendek. Meskipun fundamental ekonomi India masih solid, ketergantungan pada aliran modal asing membuat pasar rentan terhadap perubahan kebijakan moneter AS. Oleh karena itu, fokus utama investor dalam beberapa minggu ke depan adalah pada data inflasi AS dan komentar pejabat the Fed yang dapat memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan selanjutnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup