Posisi Utang Luar Negeri Indonesia Naik Lagi, Tembus Rp 8,09 Kuadriliun di Triwulan II-2026
PlatMerah.com – Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia kembali meningkat pada triwulan II-2026, mencapai USD 453,4 miliar atau setara dengan Rp 8,09 kuadriliun. Kenaikan ini tercatat sebesar 4,4 persen secara tahunan dengan rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 30,6 persen.
Fakta Utama Posisi Utang Luar Negeri Indonesia
Menurut laporan Bank Indonesia (BI), posisi ULN pada Februari 2026 tercatat sebesar USD 437,9 miliar dengan rasio terhadap PDB sebesar 29,8 persen. Angka ini mendekati batas maksimal yang diatur dalam Undang-Undang APBN sebesar 3 persen.
Pendorong Kenaikan Utang Luar Negeri
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa peningkatan ULN terutama berasal dari sektor publik, yaitu pemerintah dan bank sentral, sementara ULN swasta mengalami kontraksi.
- Posisi ULN pemerintah mencapai USD 216,3 miliar, tumbuh 2,9 persen (year on year), lebih rendah dibandingkan triwulan I-2026 yang sebesar 3,8 persen.
- Peningkatan ini didorong oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN), yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
- ULN bank sentral naik karena peningkatan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Kontraksi ULN Swasta
Di sisi lain, ULN swasta tercatat sebesar USD 194,6 miliar, mengalami penurunan sebesar 0,6 persen secara tahunan. Kontraksi ini terutama terjadi pada lembaga keuangan yang turun sebesar 3,4 persen, meskipun lebih rendah dibandingkan kontraksi 6,3 persen pada triwulan sebelumnya. Utang jangka panjang masih mendominasi ULN swasta dengan pangsa sebesar 75,7 persen.
Struktur Utang Luar Negeri yang Masih Sehat
Bank Indonesia menegaskan bahwa struktur ULN Indonesia tetap sehat dan didukung oleh prinsip kehati-hatian. Rasio ULN terhadap PDB sebesar 30,6 persen dengan 82,1 persen ULN berupa utang jangka panjang. Pemerintah bersama BI akan terus memperkuat koordinasi guna menjaga stabilitas ekonomi dan meminimalkan risiko yang dapat berdampak pada perekonomian nasional.
Signifikansi dan Dampak Kenaikan Utang Luar Negeri
Kenaikan ULN yang didominasi oleh sektor publik menunjukkan kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia, terutama melalui penerbitan Surat Berharga Negara. Namun, peningkatan rasio ULN terhadap PDB yang mendekati batas maksimal perlu menjadi perhatian untuk menjaga keberlanjutan fiskal dan stabilitas ekonomi.
Upaya Bank Indonesia dalam menjaga nilai tukar rupiah melalui operasi moneter juga menjadi langkah penting dalam menghadapi ketidakpastian global yang berpotensi mempengaruhi arus modal dan posisi utang luar negeri.
Dengan struktur utang yang didominasi oleh utang jangka panjang, Indonesia memiliki waktu yang lebih luas untuk mengelola kewajibannya, sehingga risiko likuiditas dapat diminimalkan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












