Update Harga BBM Pertamina 24 Agustus 2026: Penurunan Harga Pertamax dan Penyesuaian di Kalimantan Selatan
PlatMerah.com – Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dari PT Pertamina Patra Niaga mengalami penyesuaian terbaru per tanggal 24 Agustus 2026. Penurunan harga ini berlaku untuk beberapa jenis BBM nonsubsidi seperti Pertamax series, sementara harga Pertamina Dex dan Dexlite tetap dipertahankan.
Penyesuaian harga ini mengikuti tren harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah, serta arahan pemerintah yang mempertimbangkan daya beli masyarakat dan ketersediaan pasokan BBM nasional. VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menyampaikan bahwa perubahan harga merupakan bagian dari kebijakan berkala untuk menyesuaikan kondisi pasar dan memastikan pasokan BBM tetap terjaga dengan baik.
Daftar Harga BBM Pertamina per 24 Agustus 2026
| Jenis BBM | Harga per Liter (Rp) | Keterangan |
|---|---|---|
| Pertamax (RON 92) | 15.950 | Turun dari Rp16.250 |
| Pertamax Turbo | 18.300 | Turun dari Rp19.300 |
| Pertamax Green 95 | 16.600 | Turun dari Rp17.000 |
| Pertamina Dex | 21.150 | Harga tetap |
| Dexlite | 19.700 | Harga tetap |
Penyesuaian Harga di Kalimantan Selatan
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melakukan relaksasi Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) yang berdampak pada penurunan harga BBM nonsubsidi di wilayah tersebut. Sebagai respons, PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan menyesuaikan harga BBM nonsubsidi untuk wilayah Kalimantan Selatan sesuai dengan kebijakan PBBKB terbaru.
Salah satu contoh penyesuaian harga di Kalsel adalah penurunan harga Pertamax Turbo dari Rp19.100 menjadi Rp18.700 per liter. Penyesuaian ini diharapkan dapat meringankan beban konsumen serta menjaga ketersediaan pasokan dan pelayanan di jaringan SPBU wilayah tersebut.
Preferensi Konsumen terhadap Jenis BBM
Di tengah perubahan harga BBM, terdapat fenomena menarik dari konsumen, khususnya di daerah Karanganyar. Beberapa karyawan memilih menggunakan Pertamax dibandingkan Pertalite meskipun harga Pertamax lebih tinggi, karena ingin menghindari antrean panjang yang sering terjadi di SPBU untuk bahan bakar Pertalite yang lebih murah.
Seperti yang disampaikan oleh Tri, seorang karyawan di Karanganyar, penggunaan Pertamax lebih dipilih karena alasan efisiensi waktu dan kenyamanan saat pengisian BBM. Meskipun Pertalite masih diminati karena harga lebih terjangkau, antrean panjang menjadi faktor pengalihan preferensi sebagian pengguna kendaraan.
Konteks dan Dampak
Penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dan Pertamina untuk menyeimbangkan antara kebutuhan pasar, daya beli masyarakat, dan kondisi ekonomi makro seperti harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Penurunan harga beberapa jenis BBM nonsubsidi diharapkan dapat mendorong konsumsi yang lebih optimal tanpa mengganggu pasokan.
Selain itu, kebijakan relaksasi PBBKB di daerah seperti Kalimantan Selatan memberikan dampak positif bagi konsumen lokal dengan harga BBM yang lebih terjangkau. Di sisi lain, tren preferensi konsumen yang mulai mengarah ke BBM nonsubsidi berkualitas lebih tinggi menunjukkan perubahan pola konsumsi yang perlu diperhatikan oleh pengelola SPBU dan pemerintah.
Penyesuaian harga ini juga mencerminkan dinamika pasar BBM yang harus selalu diikuti dengan kebijakan yang adaptif agar kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi secara efisien dan berkelanjutan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













