eFootball Makin Mendunia: Dari Nobar Piala Dunia 2026 hingga Kiprah Esports Kenya
Plat Merah – Jakarta, 20 Juli 2026 – Ekosistem sepak bola virtual terus menunjukkan perkembangan pesat. eFootball, game simulasi sepak bola besutan Konami, menjadi salah satu pusat perhatian dalam berbagai ajang, mulai dari nonton bareng (nobar) final Piala Dunia 2026 hingga kualifikasi Global Esports Games. Fenomena ini menegaskan bahwa eFootball tidak hanya sekadar permainan, melainkan juga platform yang menyatukan komunitas global.
Pada Minggu (19/7) malam, ribuan warga memadati Taman Bendera Pusaka Barito, Jakarta Selatan, untuk menyaksikan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina. Acara nobar yang digelar oleh UniPin bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini turut didukung oleh eFootball sebagai mitra utama. CEO UniPin, Ashadi Ang, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan ruang temu bagi masyarakat, komunitas, dan pemerintah. “Kami percaya olahraga memiliki kekuatan untuk menyatukan masyarakat. Bersama eFootball dan mitra lainnya, kami ingin menghadirkan pengalaman yang memperkuat kolaborasi,” ujarnya.
Sementara itu, di Nairobi, Kenya, Martin Kibiwot dan Shirley Ndirangu berhasil lolos ke Global Esports Games 2026 di Los Angeles setelah memenangkan kualifikasi nasional. Kibiwot mengalahkan Harry Thuku 2-1 di final kategori Open, sementara Ndirangu menaklukkan Shantel Wanjiru 2-0 di kategori wanita. Keduanya akan mewakili Kenya di ajang yang berlangsung pada 3-10 Desember 2026. Kualifikasi ini menarik 64 pemain di kategori Open dan 32 di kategori wanita, menandai meningkatnya popularitas eFootball di benua Afrika. Sebelumnya, tim nasional eFootball Kenya juga berhasil lolos ke FIFAe Continental Championship setelah finis di delapan besar Afrika.
Di sisi lain, persaingan di industri game sepak bola semakin ketat. Setelah perpisahan FIFA dan Electronic Arts pada 2022, berbagai game baru bermunculan seperti UFL dan FIFA World Cup: Launch Edition. Namun, eFootball tetap menjadi salah satu pemimpin pasar. Junichi Taya, produser umum eFootball, menyebut bahwa pasar sedang dalam masa transisi menuju model free-to-play dan live service. “Kami fokus pada iterasi berkelanjutan untuk memberikan pengalaman autentik. eFootball telah menjangkau audiens baru melalui aksesibilitas lintas platform dan perangkat seluler,” jelasnya.
Di Meksiko, Liga MX sebelumnya memutuskan tidak memperpanjang kontrak dengan EA Sports dan beralih ke eFootball pada 2022. Namun, kemitraan itu berakhir pada 2025 karena eFootball dinilai kurang maksimal dalam memanfaatkan lisensi. Kini, Liga MX kembali ke EA Sports FC mulai 2027. Meski demikian, eFootball tetap menjadi pilihan utama bagi banyak pemain di berbagai negara karena fokusnya pada gameplay online yang kompetitif.
Kembali ke bursa transfer, Arsenal dilaporkan siap merekrut Julian Alvarez dari Atletico Madrid. Meski berita ini terkait sepak bola nyata, analis dari eks Barito Putera menilai bahwa kepindahan Alvarez bisa berdampak pada strategi klub di eFootball, terutama jika pemain tersebut hadir dalam mode karier game. eFootball sendiri terus memperbarui skuad dan statistik pemain secara real-time, sehingga transfer pemain top selalu dinantikan oleh para penggemar game.
Kesimpulannya, eFootball telah menjadi ekosistem yang dinamis, tidak hanya sebagai game tetapi juga sebagai sarana interaksi sosial, ajang kompetisi esports, dan cerminan dinamika sepak bola nyata. Dengan dukungan komunitas global dan inovasi berkelanjutan, eFootball diprediksi akan terus tumbuh seiring dengan perkembangan industri game sepak bola yang semakin beragam.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











