Sekolah di Palangka Raya Belajar Daring Imbas Kabut Asap Karhutla
PlatMerah.com, Palangka Raya – Pemerintah Kota Palangka Raya memberlakukan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama tiga hari mulai 28 hingga 31 Agustus 2026 sebagai langkah antisipasi memburuknya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebijakan ini diambil untuk melindungi kesehatan siswa karena kualitas udara saat ini masuk dalam kategori sangat tidak sehat.
Fakta Utama tentang Pembelajaran Jarak Jauh di Palangka Raya
Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, melalui Sekretaris Dinas, Vico, menjelaskan bahwa PJJ yang diterapkan bukanlah libur sekolah, melainkan proses belajar yang dilaksanakan secara daring dari rumah. Keputusan ini diambil berdasarkan kondisi kabut asap yang pekat dan indikator kualitas udara yang menunjukkan tingkat berbahaya bagi kesehatan.
Surat edaran terkait PJJ ini merupakan yang ketiga kali diterbitkan. Sebelumnya, surat kedua hanya mengatur libur bagi PAUD dan penundaan waktu masuk sekolah untuk SD dan SMP. Namun, dengan memburuknya kondisi kualitas udara, maka semua jenjang pendidikan dasar menerapkan pembelajaran daring selama tiga hari tersebut.
Kualitas Udara dan Dampaknya
Berdasarkan data dari Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, pantauan PM2.5 pada tanggal 28 Agustus 2026 antara pukul 00.00 hingga 07.00 WIB menunjukkan kualitas udara berada dalam rentang kategori sedang hingga sangat tidak sehat. Partikel halus PM2.5 ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan terutama pada anak-anak dan kelompok rentan.
Respons Orang Tua dan Evaluasi Kebijakan
Salah satu orang tua siswa SD, Rita, menyatakan dukungannya terhadap kebijakan pembelajaran daring. Ia mengungkapkan kekhawatiran jika anak-anak tetap bersekolah di tengah kabut asap karena anak-anak sulit dipaksa memakai masker dengan benar. Dengan belajar dari rumah, ia dapat lebih mengawasi agar anak tidak keluar rumah dan terpapar polusi udara.
Vico menambahkan bahwa kebijakan PJJ akan terus dievaluasi sesuai perkembangan kualitas udara. Jika kondisi membaik, pembelajaran tatap muka akan kembali diberlakukan. Namun, jika kabut asap tetap pekat atau memburuk, masa pembelajaran daring dapat diperpanjang demi kesehatan siswa.
Konsekuensi dan Langkah Pemerintah
Kebakaran hutan dan lahan yang semakin meluas di Palangka Raya menjadi perhatian serius karena dampaknya tidak hanya terhadap lingkungan tetapi juga kesehatan masyarakat dan aktivitas pendidikan. Pemerintah daerah terus memantau situasi serta mengeluarkan kebijakan yang adaptif untuk mengantisipasi gangguan proses belajar dan menjaga keselamatan warga.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













