Israel Ketar-ketir Rencana Damai AS-Iran Disebut Bisa Jadi Angin Segar bagi Teheran: Makin Kuat
Plat Merah – Israel ketar-ketir rencana damai AS-Iran disebut bisa jadi angin segar bagi Teheran: makin kuat. Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan pada Minggu (14/6/2026) memicu kekhawatiran di Tel Aviv. Banyak pihak menilai bahwa perjanjian ini justru akan memperkuat posisi Iran di kawasan, sementara Israel merasa terpinggirkan dalam proses negosiasi.
Kerangka kesepakatan tersebut mencakup penghentian eskalasi militer, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan pelonggaran blokade laut AS terhadap pelabuhan selatan Iran. Namun, sejumlah isu krusial seperti program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, dan pengembalian aset Iran yang dibekukan belum tersentuh. Hal ini membuat Israel ketar-ketir rencana damai AS-Iran disebut bisa jadi angin segar bagi Teheran: makin kuat, karena Iran dapat memanfaatkan kelonggaran ekonomi untuk mendanai kelompok proksi seperti Hizbullah dan Houthi.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui bahwa ia belum mengetahui detail isi perjanjian tersebut. Dalam konferensi pers pada Senin (15/6/2026), Netanyahu menyatakan bahwa perang telah mencapai tujuannya mencegah Iran memiliki senjata nuklir, namun ia tidak memberikan rincian mengenai dampak kesepakatan terhadap keamanan Israel. Sikap ini justru memicu kemarahan publik Israel yang merasa pemerintahnya gagal dalam perang melawan Iran. Banyak warga Israel menilai bahwa pengorbanan selama konflik tidak membuahkan hasil nyata, dan Israel ketar-ketir rencana damai AS-Iran disebut bisa jadi angin segar bagi Teheran: makin kuat, tanpa adanya jaminan keamanan yang jelas.
Di sisi lain, Iran menyambut baik kesepakatan ini. Warga Teheran masih diliputi ketidakpastian, namun secara umum perjanjian tersebut dianggap sebagai langkah awal menuju stabilitas. Parisa, seorang mahasiswa di Teheran, mengatakan bahwa kesepakatan belum memberikan dampak nyata, namun setidaknya mengurangi ketegangan militer. Sementara itu, komunitas internasional memberikan reaksi beragam. PBB memuji langkah de-eskalasi ini, sementara Israel dan sekutunya menyatakan kekecewaan.
Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menyebut kesepakatan itu sebagai “buruk bagi Israel dan dunia bebas”. Kritik juga datang dari dalam negeri AS, di mana beberapa pihak menilai bahwa Trump terlalu cepat berdamai tanpa mengamankan kepentingan Israel. Namun, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan ini adalah “akhir dari perang” dan akan membawa stabilitas baru bagi Timur Tengah.
Kesimpulan: Kesepakatan damai AS-Iran memang membuka peluang baru bagi perdamaian, namun juga menimbulkan kekhawatiran mendalam di Israel. Dengan belum terselesaikannya isu-isu fundamental seperti program nuklir dan sanksi, Israel ketar-ketir rencana damai AS-Iran disebut bisa jadi angin segar bagi Teheran: makin kuat. Ke depannya, implementasi kesepakatan akan menentukan apakah ini benar-benar awal dari stabilitas atau hanya jeda singkat dalam konflik yang lebih panjang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












