Maruf Amin Beberkan Kriteria Pemimpin Ideal NU Faqih, Munadzim, dan Muharrik
PlatMerah.com – Wakil Presiden ke-13 sekaligus Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Maruf Amin, mengungkapkan kriteria utama sosok pemimpin ideal Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar ke-35 PBNU. Menurut Maruf, seorang pemimpin NU harus memenuhi tiga syarat utama: faqih (memahami agama secara mendalam), munadzim (mampu mengelola organisasi dengan baik), dan muharrik (mampu menjadi penggerak organisasi).
Kriteria Pemimpin Ideal NU
Maruf Amin menegaskan bahwa penentuan Ketua Umum PBNU sepenuhnya merupakan kewenangan Muktamar sebagai forum tertinggi dalam NU. Meski demikian, NU sejak lama memiliki pedoman kriteria yang jelas bagi pemimpin organisasi. Berikut penjelasan mengenai ketiga kriteria tersebut:
- Faqih: Memiliki pemahaman agama yang kuat dan mendalam, sebagai fondasi utama dalam memimpin organisasi berbasis keagamaan.
- Munadzim: Kemampuan mengelola dan mengatur organisasi secara efektif agar NU tetap terstruktur dan tidak diatur oleh pihak lain.
- Muharrik: Mampu menjadi penggerak atau motor organisasi, bukan hanya bergerak sendiri tanpa memberi dampak kepada anggota dan masyarakat.
Maruf mengibaratkan pemimpin NU seperti dinamo yang menggerakkan seluruh organisasi, bukan seperti gasing yang hanya berputar sendiri tanpa memberikan pengaruh.
Persetujuan Rais Aam dan Mekanisme Muktamar
Selain memenuhi kriteria tersebut, Ketua Umum PBNU juga harus mendapatkan persetujuan dari Rais Aam sesuai mekanisme yang berlaku dalam organisasi. Maruf menekankan bahwa meskipun kriteria sudah ada, keputusan akhir tetap berada di tangan forum Muktamar.
Menjaga Marwah dan Fleksibilitas NU
Maruf Amin juga menyoroti pentingnya menjaga marwah NU tanpa mengabaikan kemampuan organisasi untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman. NU memiliki prinsip nilai-nilai dasar (tsawabit) yang tidak boleh diubah, sementara hasil ijtihad ulama dapat disesuaikan dengan perubahan kondisi masyarakat.
Fleksibilitas ini merupakan kekuatan cara berpikir NU karena perubahan dilakukan berdasarkan metode dan pedoman yang jelas, bukan tanpa arah. Hal ini membantu NU menghindari benturan antara nilai tetap dan perubahan yang diperlukan.
Menangkal Penyimpangan dan Pembelokan Arah Organisasi
Menurut Maruf, NU harus terus dikembalikan pada landasan berpikirnya jika terjadi penyimpangan dalam perjalanan organisasi. Warga NU diharapkan memiliki pemahaman kuat terhadap nilai dan fikrah organisasi agar tidak mudah terpengaruh arahan yang keluar dari jalur NU.
Maruf mengingatkan pentingnya sikap kritis warga NU, yang mampu mengenali dan meluruskan arah organisasi bila ada pembelokan, sehingga NU tetap berjalan pada prinsip dan visi yang benar.
Harapan untuk Masa Depan NU
Maruf Amin berharap agar warga NU memiliki pemahaman yang mendalam dan sikap kritis dalam menjalankan organisasi. Dengan demikian, NU dapat mempertahankan identitasnya sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman secara dinamis dan terarah.
Upaya pembinaan pemahaman ini menjadi tanggung jawab pengurus PBNU hingga ranting agar dapat mencegah dan meluruskan setiap bentuk pembelotan dalam organisasi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













