Maruf Amin: Pemimpin NU Harus Mampu Al-Ishlah Wal Ishlah
PlatMerah.com – Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia, Maruf Amin, menegaskan bahwa kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) ke depan harus mampu mengimplementasikan prinsip al-ishlah wal ishlah. Prinsip ini mengedepankan perbaikan dan perdamaian dalam menghadapi berbagai persoalan di tengah umat Islam.
Prinsip Al-Ishlah Wal Ishlah dalam Kepemimpinan NU
Dalam acara Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Jakarta, Maruf Amin menjelaskan bahwa pemimpin NU memiliki tanggung jawab untuk menjaga umat agar tetap berada dalam pemahaman keagamaan yang moderat. Dia menyoroti dua kecenderungan ekstrem dalam pemikiran keagamaan, yakni sikap yang terlalu tekstual hingga jumud dan sikap yang kehilangan akar tradisi hingga menjadi liberal.
Menurut Maruf, NU harus menjaga moderasi Islam agar umat tetap berada dalam koridor Islam yang rahmatan lil alamin. Pendekatan yang diambil adalah Islam wasathiyyah, yaitu Islam yang seimbang dan penuh kasih sayang.
Menjaga Moderasi Islam
- Mencegah pemahaman yang terlalu tekstual dan kaku (jumud).
- Mencegah pemahaman yang liberal dan kehilangan akar tradisi.
- Mengedepankan Islam wasathiyyah sebagai jalan tengah.
Penguatan Umat melalui Pendidikan dan Ekonomi
Selain menjaga pemahaman keagamaan, Maruf Amin menekankan pentingnya penguatan umat, terutama melalui pendidikan dan ekonomi. Pendidikan yang dicanangkan NU harus mampu menggabungkan penguasaan ilmu agama dengan sains dan teknologi. Hal ini bertujuan menghasilkan ulama yang kuat dalam agama sekaligus generasi yang siap membangun masyarakat dengan teknologi modern.
Dalam aspek ekonomi, Maruf mengingatkan tradisi pemberdayaan ekonomi yang sudah ada sejak sebelum NU berdiri, seperti Nahdlatut Tujjar. Penguatan ekonomi umat melalui pengusaha santri diharapkan dapat memperkuat basis ekonomi gerakan keumatan dan mendukung berbagai aktivitas sosial NU.
Fokus Penguatan Pendidikan
- Mempersiapkan ulama yang memahami agama secara mendalam.
- Menghasilkan generasi yang menguasai sains dan teknologi.
Penguatan Ekonomi Umat
- Membangun basis ekonomi yang kuat melalui pengusaha santri.
- Mendukung keberlangsungan aktivitas sosial NU.
Kepemimpinan NU dan Tanggung Jawab Kebangsaan
Maruf Amin juga mengaitkan kepemimpinan NU dengan tanggung jawab kebangsaan yang telah menjadi bagian dari sejarah NU sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Gerakan NU dikenal memiliki komitmen terhadap bangsa dan tanah air, tercermin dalam tradisi seperti Nahdlatul Wathan dan syair Ya Lal Wathan.
Maruf mengingatkan peran penting Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari yang mengeluarkan Fatwa Jihad pada 22 Oktober 1945, yang menjadi simbol perjuangan NU mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.
Dua Pilar Tanggung Jawab Kebangsaan NU
- Hifzhul-Wathon: Menjaga tanah air, termasuk menjaga kerukunan dan mencegah berbagai bentuk kerusakan dari dalam maupun luar.
- Imaratul-Wathon: Memakmurkan negara melalui berbagai kontribusi pembangunan.
Peran Strategis NU dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Dengan mengedepankan prinsip al-ishlah wal ishlah, kepemimpinan NU diharapkan dapat menjadi kekuatan yang tidak hanya menjaga kerukunan dan memperbaiki persoalan umat, tetapi juga memperkuat kontribusi NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendekatan moderat dan penguatan umat menjadi kunci dalam menjaga peran strategis NU di masa depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












