Seruan Kiai Sepuh NU Jelang Muktamar ke-35: Jangan Ada Pengondisian dan Intervensi
PlatMerah.com, Jakarta – Sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan seruan moral penting menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35 yang akan digelar pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Seruan ini menegaskan agar Muktamar berlangsung secara bermartabat tanpa adanya pengondisian, intervensi, atau praktik yang merendahkan kehormatan ulama dan institusi NU.
Seruan Kiai Sepuh NU: Forum Bermartabat dan Bebas dari Intervensi
Dalam Forum Silaturahmi Para Kiai yang digelar tertutup di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (20/8/2026), para kiai sepuh menegaskan bahwa Muktamar NU bukan sekadar arena kontestasi politik, melainkan forum permusyawaratan tertinggi yang harus menjunjung tinggi nilai keulamaan, akhlak, dan tradisi NU.
Wakil Presiden ke-13 RI sekaligus ulama sepuh NU, KH Maruf Amin, memimpin pertemuan tersebut. Seruan moral yang dibacakan oleh KH Muhibbul Aman Aly berisi tujuh poin penting yang menjadi pedoman dalam penyelenggaraan Muktamar ke-35.
7 Poin Penting Seruan Kiai Sepuh NU
- Muktamar Bukan Sekadar Kontestasi
Muktamar harus menjadi forum yang sejuk, jujur, adil, berintegritas, dan bermartabat, tanpa transaksi kepentingan, tekanan, atau manipulasi yang merendahkan kehormatan ulama dan jamiyyah NU. - Hormati Kedaulatan Muktamirin
Kedaulatan para muktamirin yang membawa amanat dari struktur dan jamaah di bawahnya harus dihormati sepenuhnya tanpa adanya pengondisian atau rekayasa dalam proses pemilihan. - AHWA Tetap Jadi Maqam Keulamaan
AHWA (Ahlul Halli wal ‘Aqdi) harus dihormati sebagai maqam keulamaan yang mencerminkan integritas, keteladanan, dan kewibawaan para kiai, bukan sebagai instrumen perebutan kekuasaan. - Soroti Penggalangan Dukungan Calon AHWA
Penggalangan dukungan calon AHWA sebelum Muktamar dinilai berpotensi menggeser proses musyawarah keulamaan menjadi arena mobilisasi politik dan transaksi dukungan yang mereduksi kemerdekaan pengambilan keputusan di tingkat wilayah. - Usul Ubah Mekanisme Pengusulan AHWA
Para kiai mengusulkan agar pengusulan calon AHWA dilakukan pada waktu khusus menjelang penghitungan dan tabulasi di sidang pleno Muktamar guna menjaga kemerdekaan dan mempersempit ruang pengondisian. - Semua Pihak Diminta Menahan Diri
Calon, pendukung, dan calon pengurus di semua tingkatan diminta mengedepankan akhlaqul karimah dan menjaga persatuan selama proses Muktamar berlangsung dengan hasil yang harus diterima secara legawa oleh semua pihak. - Jaga Kemurnian Muktamar
Para kiai sepuh mengingatkan agar Muktamar tidak diwarnai pengaruh pihak tertentu, termasuk isu intervensi dari pihak luar seperti istana. KH Maruf Amin menegaskan keyakinan bahwa pemerintah tidak akan mencampuri proses internal NU dan persoalan diselesaikan melalui mekanisme islah internal.
Konteks dan Pentingnya Seruan Ini
Seruan ini muncul di tengah dinamika menjelang Muktamar NU ke-35, yang merupakan forum tertinggi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Menjaga integritas dan kemurnian Muktamar menjadi penting agar keputusan yang dihasilkan memiliki legitimasi dan dapat diterima seluruh kader NU serta jamaahnya.
Selain itu, usulan perubahan mekanisme pengusulan calon AHWA bertujuan memperkuat proses demokrasi internal NU dan menghindari praktik-praktik yang dapat menurunkan martabat organisasi.
Tokoh Kiai Sepuh yang Hadir
Seruan ini disampaikan oleh sejumlah kiai sepuh NU yang memiliki pengaruh besar dalam organisasi, antara lain:
- KH. Anwar Manshur
- Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin
- KH. Ubab Maimoen
- KH. Mustofa Bisri
- Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj
- KH. Idris Hamid
- KH. Kafabihi Mahrus
- KH. Ali Akbar Marbun
- KH. Muhtadi Dimyati
- KH. Muadz Thohir
- KH. Haris Shodaqoh
- KH. Nuh Addawami
- KH. Zuhri Zaini
- KH. Muhibbul Aman Ali
- KH. Nuruzzahri
- KH. Muhyiddin Ishaq
- KH. Abun Bunyamin
- KH. Ahmad Syatibi
KH Muhibbul Aman Ali bertindak sebagai moderator dalam pertemuan tersebut.
Harapan untuk Muktamar ke-35 NU
KH Maruf Amin menegaskan bahwa seruan para kiai sepuh bertujuan menjaga kemurnian Muktamar NU agar berjalan mulus dan sesuai dengan akhlak Nahdlatul Ulama. Muktamar diharapkan menjadi milik para ulama dan bukan sekadar arena perebutan kekuasaan.
Pemilihan yang adil dan bermartabat akan memperkuat posisi NU sebagai organisasi keagamaan yang memiliki peran strategis dalam menjaga kerukunan dan kemajuan umat Islam di Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













