BPBD Probolinggo Bangun Sumur Bor di Jrebeng Kulon untuk Antisipasi Kekeringan Musim Kemarau
Latar Belakang Musim Kemarau dan Ancaman Kekeringan di Probolinggo
Plat Merah – Provinsi Jawa Timur, termasuk Kabupaten dan Kota Probolinggo, secara historis menghadapi musim kemarau yang panjang antara bulan Mei hingga September. Selama dekade terakhir, pola curah hujan mengalami variabilitas yang meningkat, dipengaruhi oleh fenomena El Niño dan perubahan iklim global. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), rata-rata curah hujan tahunan di wilayah pantai selatan Jawa Timur menurun sekitar 5% dibandingkan periode 1980–2010. Penurunan ini meningkatkan risiko kekeringan, terutama pada lahan pertanian yang sangat bergantung pada irigasi tradisional.
Probolinggo memang belum pernah mencatatkan kejadian kekeringan parah dalam lima tahun terakhir, namun potensi kerawanan tetap tinggi. Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyusun rencana mitigasi yang tidak hanya memfokuskan pada kebakaran hutan, melainkan juga pada kelangkaan air.
Detail Proyek Sumur Bor di Jrebeng Kulon
BPBD Kota Probolinggo memutuskan untuk membangun satu unit sumur bor di Dusun Sumur Tamu, Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok. Lokasi dipilih karena:
- Letaknya strategis dekat area pertanian sawah dan kebun sayur.
- Tanah di wilayah tersebut memiliki kedalaman air tanah yang relatif rendah, memungkinkan pengeboran yang efisien.
- Komunitas setempat telah mengajukan permohonan bantuan air bersih sejak awal 2026.
Spesifikasi teknis sumur bor:
| Elemen | Detail |
|---|---|
| Diameter | 150 mm |
| Kedalaman | 45 meter |
| Kapasitas | 12 m3/jam |
| Biaya | Rp 250 juta |
| Penyedia | PT. Sumur Bersih Nusantara |
Sumur ini dilengkapi dengan pompa listrik berdaya 3,5 HP, serta sistem penjernihan sederhana berbasis filter pasir untuk memastikan kualitas air yang layak bagi pertanian dan kebutuhan domestik.
Kronologi Pembangunan
- 15 Juni 2026 – BPBD mengadakan pertemuan koordinasi dengan Dinas Pertanian, Dinas Pekerjaan Umum, serta perwakilan warga Jrebeng Kulon.
- 22 Juni 2026 – Penetapan lokasi dan penyusunan dokumen Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) selesai.
- 5 Juli 2026 – Kontrak konstruksi diberikan kepada PT. Sumur Bersih Nusantara.
- 8 Juli 2026 – Pelaksanaan pengeboran dimulai, dipimpin oleh Kepala Pelaksana BPBD, Boedi Surjanto.
- 20 Juli 2026 – Sumur mencapai kedalaman target, pompa diinstalasi, dan uji aliran air selesai.
- 25 Juli 2026 – Serah terima resmi kepada masyarakat dan pelatihan operasional bagi petugas desa.
Dampak Bagi Pertanian, Masyarakat, dan Pemerintah
Dengan kapasitas 12 m3 per jam, sumur bor dapat memasok sekitar 288 m3 air per hari. Bila diasumsikan 1 liter air per meter persegi lahan pertanian per hari, sumur ini dapat mendukung sekitar 2,9 hektar lahan irigasi selama periode kemarau yang paling kritis. Dampaknya meliputi:
- Pertanian: Petani di Jrebeng Kulon dapat menjaga produktivitas padi dan sayuran, mengurangi risiko gagal panen yang biasanya meningkat pada Juli-Agustus.
- Kesehatan Publik: Ketersediaan air bersih menurunkan risiko penyakit terkait sanitasi, terutama diare pada anak-anak.
- Ekonomi Lokal: Stabilitas produksi pertanian meningkatkan pendapatan rumah tangga, memperkuat daya beli di pasar tradisional Probolinggo.
- Pemerintah: Demonstrasi keberhasilan mitigasi meningkatkan kepercayaan publik terhadap kebijakan BPBD, serta membuka peluang pendanaan tambahan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Koordinasi Lanjutan dan Mitigasi Terintegrasi
BPBD menegaskan bahwa sumur bor hanyalah satu elemen dalam strategi mitigasi yang lebih luas. Langkah selanjutnya meliputi:
- Monitoring kualitas dan kuantitas air tanah secara real‑time menggunakan sensor IoT yang dipasang di tiga titik kritis.
- Penyuluhan kepada petani tentang teknik irigasi hemat air, seperti drip irrigation dan sprinkler low‑pressure.
- Pengembangan jaringan sumur bor tambahan di kecamatan lain yang menunjukkan potensi kekeringan.
- Sinergi dengan Dinas Kesehatan untuk program distribusi air bersih selama masa krisis.
Jika indikasi kekeringan muncul, BPBD siap mengaktifkan protokol darurat yang melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan, serta perusahaan air PDAM setempat untuk distribusi air melalui truk tangki.
Tantangan dan Prospek Kedepan
Walaupun proyek sumur bor di Jrebeng Kulon dianggap berhasil secara teknis, terdapat beberapa tantangan yang harus diantisipasi:
- Ketersediaan Energi: Pompa listrik memerlukan pasokan listrik yang stabil; gangguan listrik dapat menghambat distribusi air.
- Penurunan Debit Air Tanah: Jika penggunaan air tidak diatur, debit dapat menurun secara berkelanjutan, memicu konflik penggunaan air.
- Pembiayaan Pemeliharaan: Biaya operasional dan perawatan per tahun diperkirakan mencapai Rp 15 juta, yang harus dialokasikan dalam APBD.
Untuk mengatasi hal tersebut, BPBD berencana mengintegrasikan energi terbarukan berupa panel surya di lokasi pompa serta membentuk komite pengelolaan air desa yang melibatkan tokoh masyarakat.
Dengan langkah proaktif ini, Probolinggo tidak hanya menyiapkan diri menghadapi musim kemarau yang lebih panjang, tetapi juga membangun fondasi ketahanan air jangka panjang yang dapat dijadikan contoh bagi daerah lain di Pulau Jawa.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












