Dosen Universitas Nias Tingkatkan Kapasitas ULD Ketenagakerjaan di Gunungsitoli untuk Inklusi Penyandang Disabilitas
Latar Belakang Kebutuhan Layanan Ketenagakerjaan Inklusif di Gunungsitoli
Plat Merah – Gunungsitoli, ibu kota Kabupaten Nias Selatan, mencatat peningkatan jumlah penyandang disabilitas yang aktif mencari pekerjaan. Namun, data Dinas Tenaga Kerja setempat mengungkap bahwa tingkat penempatan kerja bagi kelompok ini masih di bawah 10 persen, jauh di bawah rata-rata nasional. Hambatan utama meliputi kurangnya informasi tentang potensi kompetensi, minimnya akomodasi tempat kerja, serta kurangnya mekanisme asesmen yang berorientasi pada kekuatan individu.
Menanggapi tantangan ini, Pemerintah Kota Gunungsitoli melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD) Ketenagakerjaan bertekad mengubah paradigma layanan: dari fokus pada keterbatasan menuju penekanan pada potensi, kompetensi, dan dukungan yang diperlukan untuk sukses di dunia kerja.
Pelatihan Peningkatan Kapasitas ULD Ketenagakerjaan
Pelatihan lanjutan dilaksanakan pada Kamis, 9 Juli 2026, di Gedung Dekranasda Kota Gunungsitoli. Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nias, Justin Foera‑era Lase, S.Tr.Sos., Sp.P.S.P.D., C.PS., C.MTr., diundang sebagai narasumber utama. Kegiatan ini menargetkan seluruh staf ULD, perwakilan Balai Latihan Kerja (BLK), serta perwakilan perusahaan lokal yang berkomitmen pada inklusi.
| Waktu | Sesi | Fasilitator |
|---|---|---|
| 08.30‑09.00 | Pembukaan & Penetapan Tujuan | Kepala ULD |
| 09.00‑10.30 | Asesmen Vokasional Berbasis Potensi | Justin Foera‑era Lase |
| 10.45‑12.15 | Praktik Penyusunan Profil Pencari Kerja Disabilitas | Justin Foera‑era Lase |
| 13.15‑14.45 | Simulasi Wawancara & Role Play | Tim Konsultan HR Lokal |
| 15.00‑16.00 | Evaluasi & Rencana Tindak Lanjut | Kepala ULD |
Materi 1: Asesmen Vokasional Berbasis Potensi
Materi pertama menyoroti pentingnya mengidentifikasi tiga dimensi utama pencari kerja: minat, keterampilan, dan kebutuhan akomodasi. Peserta dilatih menggunakan instrumen asesmen yang memetakan kompetensi teknis (mis. keahlian menjahit, pengoperasian mesin ringan) serta soft skill (komunikasi, kerja tim). Penekanan khusus diberikan pada cara menilai potensi tersembunyi yang sering terabaikan dalam penilaian tradisional.
Materi 2: Praktik Penyusunan Profil Pencari Kerja Disabilitas
Melalui studi kasus, peserta mempraktikkan pembuatan profil kerja inklusif yang menonjolkan kompetensi, pengalaman kerja sebelumnya, serta sertifikasi yang dimiliki. Format profil dirancang agar mudah di‑upload ke portal lowongan kerja BLK dan jaringan perusahaan mitra, sekaligus menyertakan rekomendasi akomodasi yang realistis.
Dampak dan Implikasi Bagi Pemangku Kepentingan
- Pencari kerja disabilitas: Mendapatkan profil yang lebih kompetitif dan akses ke lowongan yang sebelumnya tidak terjangkau.
- Perusahaan lokal: Memiliki sumber daya manusia yang terverifikasi kompetensinya, memudahkan proses rekrutmen inklusif.
- ULD Ketenagakerjaan: Meningkatkan kredibilitas sebagai jembatan layanan, memperluas jaringan dengan BLK dan sektor swasta.
- Pemerintah Daerah: Menunjukkan komitmen pada agenda inklusi, membuka peluang pendanaan tambahan dari kementerian terkait.
- Universitas Nias: Memperkuat peran sebagai mitra strategis dalam pembangunan wilayah, meningkatkan relevansi kurikulum Bimbingan Konseling.
Kolaborasi Pemerintah, Lembaga, dan Perguruan Tinggi
Keberhasilan pelatihan tidak lepas dari sinergi tiga pilar utama: Pemerintah Kota menyediakan fasilitas dan dukungan kebijakan; BLK berperan sebagai hub pelatihan teknis; serta Universitas Nias memberikan keahlian akademik dan metodologi asesmen modern. Kesepakatan kerjasama tertulis mencakup pertukaran data, pendampingan lanjutan, dan evaluasi tahunan untuk memastikan program tetap relevan.
Harapan Kedepan dan Penutup
Pelatihan 9 Juli 2026 diharapkan menjadi titik tolak bagi transformasi layanan ketenagakerjaan inklusif di Gunungsitoli. Dengan Kapasitas ULD yang lebih terlatih, diantisipasi peningkatan penempatan kerja disabilitas sebesar 15‑20 persen dalam dua tahun ke depan. Lebih jauh, model pelatihan ini dapat direplikasi oleh kota‑kota lain di Provinsi Sumatera Utara, memperluas dampak sosial ekonomi secara regional.
Seperti yang disampaikan oleh Justin Foera‑era Lase, “Penyandang disabilitas tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan kesempatan yang setara untuk menunjukkan kemampuan dan potensi yang mereka miliki.” Komitmen tersebut kini terwujud dalam tindakan konkret, menegaskan bahwa inklusi bukan sekadar slogan, melainkan agenda pembangunan berkelanjutan yang mengakui nilai setiap warga negara.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













