Polsek Prenduan Pantau Budidaya Melon, Dorong Ketahanan Pangan di Sumenep
Komitmen Polresta Sumenep dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional
Plat Merah – Sejak awal tahun 2026, Polresta Sumenep menegaskan perannya bukan sekadar penegakan hukum, melainkan juga mitra strategis dalam program Asta Cita Presiden Republik Indonesia yang menitikberatkan pada swasembada pangan. Salah satu wujud konkret dari kebijakan ini adalah kehadiran Bhabinkamtibmas (Bhabinkam) di lapangan, termasuk Bhabinkamtibmas Desa Sentol Daya, Bripda A. Noval Alif Baddrus Zaman, yang secara rutin memantau budidaya tanaman melon milik warga setempat.
Latar Belakang Program Asta Cita dan Peran Bhabinkamtibmas
Program Asta Cita menargetkan peningkatan produksi pangan sebesar 30 % pada akhir 2027, dengan menitikberatkan pada peningkatan produktivitas petani kecil, diversifikasi tanaman, dan penerapan teknologi pertanian ramah lingkungan. Polri, melalui satuan Bhabinkamtibmas, ditugaskan menjadi penghubung antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan petani. Tugas mereka meliputi:
- Monitoring kondisi tanaman secara periodik.
- Memberikan edukasi teknis tentang pemupukan, irigasi, dan pengendalian hama.
- Mengawasi keamanan lahan pertanian dari potensi konflik lahan atau pencurian hasil panen.
- Menjadi fasilitator akses petani ke program subsidi dan pelatihan.
Kasus Pemantauan Budidaya Melon di Desa Sentol Daya, Pragaan
Pada Jumat, 24 Juli 2026, Bripda Noval mengunjungi lahan milik petani bernama Halwan di Desa Sentol Daya, Kecamatan Pragaan. Halwan menanam 1.200 meter persegi lahan melon Cantaloupe dengan harapan menghasilkan 12 ton buah dalam satu musim. Selama kunjungan, Bripda Noval mencatat beberapa poin penting:
- Kondisi tanah menunjukkan pH netral yang cocok untuk melon, namun ada indikasi defisiensi kalium.
- Penggunaan pupuk organik masih terbatas karena kurangnya akses ke bahan baku.
- Serangan kutu putih pada 15 % tanaman, yang dapat menurunkan hasil hingga 8 % jika tidak ditangani.
- Petani memiliki jaringan pemasaran informal ke pasar tradisional Sumenep, namun belum terhubung ke pasar modern atau ekspor.
Bripda Noval memberikan saran praktis, antara lain penambahan pupuk kalium berbasis batu bara, penggunaan perangkap kunang-kunang sebagai kontrol biologis, dan menghubungkan petani dengan program pemerintah Padat Karya Pertanian untuk mendapatkan bantuan mesin irigasi tetes.
Chronology of the Monitoring Activity
| Tanggal | Kegiatan | Hasil / Temuan |
|---|---|---|
| 24 Jul 2026 | Kunjungan lapangan Bripda Noval | Identifikasi defisiensi kalium & serangan kutu putih |
| 28 Jul 2026 | Pemberian pelatihan penggunaan pupuk organik | Petani mulai mengaplikasikan pupuk kompos buatan sendiri |
| 05 Aug 2026 | Instalasi sistem irigasi tetes percobaan | Penghematan air hingga 30 % |
Dampak Langsung bagi Petani dan Komunitas
Implementasi rekomendasi Bhabinkamtibmas memberikan beberapa manfaat yang dapat diukur:
- Peningkatan hasil: Proyeksi peningkatan produksi melon sebesar 10‑12 % bila defisiensi nutrisi dan serangan hama diatasi.
- Efisiensi penggunaan air: Sistem irigasi tetes mengurangi kebutuhan air sebesar 30 %, penting mengingat musim kemarau yang semakin panjang di Madura.
- Peningkatan pendapatan: Dengan hasil melon yang lebih tinggi, pendapatan keluarga Halwan diperkirakan naik dari Rp 15 juta menjadi Rp 22 juta per musim.
- Penguatan jaringan pasar: Koneksi ke program pemerintah membuka peluang pemasaran ke supermarket di Surabaya dan Bali.
Implikasi Lebih Luas bagi Pemerintah dan Kebijakan
Keberhasilan monitoring di Pragaan menjadi contoh bagi kebijakan lintas sektor. Beberapa implikasi penting meliputi:
- Model kolaboratif: Sinergi antara Polri, Dinas Pertanian, dan lembaga keuangan mikro dapat direplikasi di kabupaten lain.
- Data berbasis bukti: Catatan lapangan Bhabinkamtibmas menyediakan data real‑time yang dapat dipakai pemerintah untuk menyesuaikan alokasi subsidi.
- Penguatan ketahanan pangan daerah: Diversifikasi tanaman seperti melon menambah nilai tambah bagi petani yang sebelumnya bergantung pada padi.
- Peningkatan citra Polri: Keterlibatan aktif dalam pembangunan ekonomi meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi keamanan.
Visi Kedepan: Dari Pemantauan ke Pemberdayaan
Kombes Pol Ariek Indra Sentanu menegaskan bahwa kehadiran Bhabinkamtibmas tidak akan berhenti pada fase monitoring. “Kami ingin mengubah peran menjadi mentor agrikultur, dimana petani tidak hanya diberi arahan teknis tetapi juga dukungan akses permodalan dan pemasaran,” ujarnya. Rencana ke depan mencakup:
- Pendirian pusat inovasi pertanian desa yang dikelola bersama Polri dan Dinas Pertanian.
- Program beasiswa pertanian bagi generasi muda desa Sentol Daya.
- Pengembangan platform digital sederhana untuk pelaporan real‑time kondisi lahan.
Jika semua inisiatif ini berjalan konsisten, diharapkan pada akhir 2027 wilayah Sumenep dapat mencatat peningkatan produksi melon sebesar 25 % dibandingkan 2025, sekaligus menjadi contoh bagi provinsi lain dalam mengintegrasikan keamanan publik dengan ketahanan pangan.
Keberhasilan kecil di lahan Halwan menegaskan bahwa perubahan besar dimulai dari langkah-langkah sederhana: kehadiran aparat yang peduli, dialog terbuka, dan kebijakan yang mendengarkan suara petani. Dengan sinergi berkelanjutan antara Polsek Prenduan, pemerintah daerah, dan masyarakat, harapan akan swasembada pangan bukan lagi sekadar slogan, melainkan kenyataan yang semakin mendekat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













