Lebih dari 2.000 Bangunan Rusak Akibat Gempa Magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur
PlatMerah.com, Nusa Tenggara Timur – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, menyebabkan kerusakan lebih dari 2.000 bangunan di berbagai kabupaten. Dampak gempa ini meliputi kerusakan pada rumah warga, fasilitas pendidikan, gedung pemerintahan, fasilitas kesehatan, serta infrastruktur umum lainnya.
Sejumlah daerah terdampak termasuk Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Sikka, Ende, Ngada, dan Nagekeo. Kabupaten Manggarai Timur tercatat mengalami kerusakan paling parah dengan ratusan satuan pendidikan dan bangunan lain terdampak.
Kerusakan Bangunan dan Korban Jiwa
Hingga Minggu sore, lebih dari 2.000 unit bangunan mengalami kerusakan akibat gempa tersebut. Bangunan yang terdampak terdiri dari beragam jenis, seperti rumah warga, kantor pemerintahan, sekolah, hingga fasilitas kesehatan. Kerusakan juga dialami oleh infrastruktur vital seperti bandara dan pelabuhan di Pulau Flores, meskipun landasan pacu bandara masih dapat digunakan.
Korban jiwa yang tercatat mencapai 38 orang dengan rincian di beberapa kabupaten, termasuk Manggarai Timur, Sikka, Manggarai, Ende, dan Manggarai Barat. Selain korban meninggal, terdapat 13 orang luka-luka dengan dua luka berat dan sebelas luka ringan. Sekitar 2.000 warga melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman.
Dampak pada Satuan Pendidikan
Gempa bumi juga merusak 253 satuan pendidikan di tujuh kabupaten di Pulau Flores. Kerusakan terjadi di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SKB, hingga SMA, SMK, dan SLB. Dua murid dan seorang guru meninggal dunia akibat gempa tersebut.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bergerak cepat dengan menyiapkan 50 tenda kelas darurat di dua klaster sebagai solusi sementara agar proses pembelajaran dapat segera dilanjutkan. Paket bantuan sekolah dan keluarga turut disalurkan untuk mendukung warga sekolah yang terdampak.
Akses dan Infrastruktur Terpengaruh
Gempa menyebabkan longsor yang menutup beberapa jalan utama di Kabupaten Ende dan Kota Bajawa, sehingga akses menuju daerah tersebut sempat terputus. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum segera menangani pembersihan jalan untuk mengembalikan akses transportasi.
Selain itu, kerusakan juga terjadi pada fasilitas pelabuhan seperti Pelabuhan Ende dan Pelabuhan Maumere, serta beberapa bandara di Pulau Flores. Meski demikian, bandara-bandara tersebut masih beroperasi karena landasan pacu tidak mengalami kerusakan signifikan.
Penanganan dan Pemulihan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus melakukan pendataan dan koordinasi evakuasi. Kementerian dan instansi terkait bekerja sama untuk pemulihan fasilitas serta bantuan kepada masyarakat terdampak. Proses evakuasi dan penanganan kerusakan masih berlangsung, dengan harapan pemulihan dapat segera dilaksanakan demi keselamatan dan kenyamanan warga.
Gempa yang mengguncang NTT ini menjadi peringatan penting akan kesiapsiagaan bencana dan penanganan darurat di wilayah rawan gempa di Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













