Ekonom: Rupiah rebound dapat kembali menguat lewat kebijakan fiskal‑moneter terpadu

Ekonom: Rupiah rebound dapat kembali menguat lewat kebijakan fiskal‑moneter terpadu

Plat Merah – Ekonom: Rupia Bisa Rebound Jika Policy Mix Fiskal-Moneter Membaik [titlebase] menjadi sorotan utama dalam pertemuan yang digelar di kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, pada Rabu (21/1/2026). Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menegaskan bahwa stabilisasi nilai tukar rupiah tidak dapat bergantung semata pada kebijakan moneter; dukungan fiskal menjadi kunci untuk menciptakan kepercayaan pasar yang berkelanjutan.

Fakhrul menilai langkah kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) sebagai respons tepat terhadap tekanan global dan inflasi domestik. “Kenaikan suku bunga merupakan langkah yang tepat dan diperlukan,” ujarnya. Namun, ia menambahkan, “pasar akan mulai melihat apakah ada tindak lanjut dari sisi fiskal dan pengelolaan pasar keuangan. BI tidak bisa bekerja sendirian.” Pernyataan ini menegaskan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal dalam rangka menciptakan kebijakan campuran (policy mix) yang solid.

Menurut Fakhrul, kurva imbal hasil (yield curve) Indonesia yang terlalu datar menimbulkan sinyal yang kurang tepat tentang harga risiko. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor satu tahun dan sepuluh tahun berada pada kisaran 6,7 persen, kondisi yang tidak lazim dan mengaburkan mekanisme price discovery. Hal ini memicu persepsi investor bahwa premi risiko belum sepenuhnya tercermin dalam obligasi jangka panjang, sehingga menambah tekanan pada nilai tukar rupiah.

Dalam konteks tersebut, Fakhrul memperkirakan bahwa Rupiah memiliki ruang rebound yang signifikan jika policy mix fiskal‑moneter membaik. Ia menyebutkan bahwa potensi penguatan kembali dapat mencapai level Rp 16.800‑Rp 17.000 per dolar AS, asalkan koordinasi antara pemerintah dan BI solid. “Level rupiah saat ini terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia sebenarnya,” tegasnya, menambahkan bahwa kondisi ini dapat berubah menjadi lebih positif bila kebijakan fiskal dan moneter berjalan seirama.

Berbagai faktor menjadi prasyarat utama agar Rupiah rebound dapat terwujud, antara lain:

  • Pengelolaan defisit anggaran yang lebih disiplin, dengan penekanan pada belanja produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi.
  • Komunikasi kebijakan yang konsisten antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia, sehingga pasar dapat mengantisipasi langkah selanjutnya.
  • Peningkatan likuiditas pasar obligasi jangka panjang untuk memperbaiki kurva imbal hasil, mengurangi flatness, dan menurunkan premi risiko.
  • Penguatan cadangan devisa serta intervensi pasar yang terukur untuk menstabilkan nilai tukar.

Fakhrul juga menyoroti pentingnya pendekatan pre‑emptive, front‑loading, dan ahead‑the‑curve yang pernah diterapkan pada era 2018. Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kredibilitas BI serta menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan nilai tukar.

Secara keseluruhan, Ekonom: Rupia Bisa Rebound Jika Policy Mix Fiskal-Moneter Membaik [titlebase] menegaskan bahwa kebijakan moneter saja tidak cukup. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara fiskal dan moneter untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi dan memperkuat Rupiah rebound. Koordinasi yang solid, pengelolaan risiko yang hati‑hati, serta kebijakan fiskal yang mendukung akan menjadi faktor penentu dalam upaya menurunkan tekanan nilai tukar dan mengembalikan kepercayaan investor.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup