Djarot PDIP: Rakyat Desa Pasti Terdampak Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar, Harga Sembako Meroket!
Plat Merah – Djarot PDIP: Rakyat desa pasti terdampak pelemahan rupiah terhadap dolar [titlebase] menjadi sorotan utama dalam pernyataan Ketua DPP PDI Perjuangan, Djarot Saiful Hidayat, pada akhir pekan lalu. Menurutnya, meski masyarakat desa tidak menggunakan dolar dalam transaksi harian, kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah secara tidak langsung menekan harga kebutuhan pokok, termasuk sembako, yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Rupiah telah mengalami depresiasi sekitar 9 persen sejak awal 2025, menembus level terendah sepanjang masa pada akhir Mei 2026 dengan nilai tukar hampir Rp17.900 per dolar AS. Penurunan nilai tukar ini memicu inflasi impor, terutama pada barang-barang yang bergantung pada bahan baku luar negeri seperti kedelai. Kedua, kedelai merupakan bahan baku utama untuk produksi tahu dan tempe, usaha mikro yang banyak dijalankan oleh warga desa. Djarot mencontohkan, “Pengusaha tahu dan tempe menjerit karena harga kedelai naik, dan bila tren ini berlanjut, mereka berisiko tutup.”
Analisis dari Pramadina Public Policy Institute menegaskan bahwa setiap penurunan 10 persen nilai tukar rupiah dapat menambah defisit APBN sebesar Rp60 triliun, sekaligus meningkatkan beban utang luar negeri yang kini mencapai sekitar Rp175 triliun. Dampak tersebut memaksa pemerintah untuk mengandalkan penerbitan surat utang berdenominasi valuta asing, yang pada gilirannya menambah tekanan pada kurs rupiah. Kondisi ini memicu Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan, yang selanjutnya meningkatkan cost of fund bagi pelaku usaha, termasuk para petani dan pedagang di desa.
Dalam sebuah acara Bimbingan Teknis DPRD PDI‑P se‑Indonesia, Djarot kembali menegaskan, “Djarot PDIP: Rakyat desa pasti terdampak pelemahan rupiah terhadap dolar [titlebase]”. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga bahan baku impor berujung pada kenaikan harga jual produk akhir, sehingga daya beli masyarakat desa menurun drastis. Bahkan, harga beras, gula, dan minyak goreng telah melambung tinggi dalam beberapa bulan terakhir, memaksa keluarga di pedesaan mengalokasikan lebih banyak anggaran untuk kebutuhan pokok.
Para ekonom menilai bahwa efek domino ini tidak hanya terbatas pada sektor agrikultur, tetapi juga memengaruhi sektor energi, transportasi, dan layanan publik. Kenaikan harga minyak dunia yang dibayar dalam dolar memperburuk beban subsidi bahan bakar, sementara biaya logistik yang lebih tinggi menambah harga barang di pasar tradisional desa. Semua faktor ini memperkuat argumen Djarot bahwa “rakyat desa tetap terdampak, meski tidak menggunakan dolar secara langsung”.
Selain itu, Djarot menyoroti kebijakan pemerintah yang belum cukup proaktif dalam melindungi kelompok rentan. Ia menyerukan langkah-langkah seperti subsidi langsung untuk bahan baku penting, penyesuaian tarif listrik, serta program pelatihan bagi petani agar dapat beralih ke komoditas yang tidak terlalu bergantung pada impor. “Kita butuh kebijakan yang mengurangi ketergantungan pada pasar global, terutama dalam hal pangan,” ujarnya.
Berbagai pihak, termasuk kalangan bisnis dan akademisi, mengapresiasi keberanian Djarot mengangkat isu ini di tengah perdebatan politik nasional. Mereka menilai bahwa penekanan pada dampak riil terhadap masyarakat desa dapat menjadi katalisator bagi reformasi struktural dalam kebijakan moneter dan fiskal. Namun, kritikus menilai bahwa pernyataan tersebut perlu didukung dengan data konkret dan rencana aksi yang terukur.
Secara keseluruhan, pernyataan Djarot PDIP: Rakyat desa pasti terdampak pelemahan rupiah terhadap dolar [titlebase] menegaskan bahwa depresiasi mata uang tidak hanya menjadi masalah makroekonomi, melainkan juga masalah kesejahteraan sosial yang memengaruhi kehidupan sehari-hari warga desa. Pemerintah diharapkan dapat menanggapi dengan kebijakan yang inklusif, mengurangi beban inflasi impor, dan melindungi sektor usaha mikro yang menjadi tulang punggung perekonomian pedesaan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










