Rupiah Melemah di Batas Psikologis: Penutupan 0,71% ke Rp 17.966 per Dolar AS

Rupiah Melemah di Batas Psikologis: Penutupan 0,71% ke Rp 17.966 per Dolar AS

Plat MerahRupiah ditutup melemah 0,71 persen ke Rp 17.966 per dolar AS [titlebase] pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, menandai tekanan intens pada mata uang Garuda menjelang level psikologis Rp 18.000 per dolar. Penurunan ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, lonjakan harga minyak, serta kekhawatiran inflasi yang memicu spekulasi kebijakan moneter Federal Reserve.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa kombinasi faktor eksternal dan domestik menjadi pendorong utama pelemahan. Dari sisi eksternal, konflik antara Israel dan Lebanon serta aksi Iran menembakkan rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain meningkatkan ketidakpastian. Serangan militer Amerika Serikat di Pulau Qeshm, Iran, juga menambah kecemasan pasar karena lokasi strategis Selat Hormuz mengalirkan sekitar 20% konsumsi minyak dunia.

Secara domestik, pasar masih dipengaruhi oleh spekulasi inflasi akibat kenaikan harga minyak dunia. Investor mengantisipasi kemungkinan The Fed mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga, yang pada gilirannya memperkuat dolar AS sebagai aset safe‑haven. Kondisi ini memaksa pelaku pasar Indonesia beralih ke dolar, memperlemah rupiah lebih jauh.

  • Kondisi geopolitik: ketegangan Israel‑Lebanon, Iran‑Kuwait‑Bahrain, operasi AS di Qeshm.
  • Harga minyak: kenaikan harga energi global meningkatkan tekanan inflasi.
  • Kebijakan moneter AS: ekspektasi suku bunga tinggi memperkuat dolar.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Ia mencatat bahwa pendapatan pajak Mei tetap tinggi, dan pertumbuhan ekonomi masih berada pada jalur positif. Purbaya menambahkan bahwa Bank Indonesia memiliki mandat untuk menjaga stabilitas nilai tukar, dan koordinasi lebih lanjut dapat dilakukan bila diperlukan.

Rupiah ditutup melemah 0,71 persen ke Rp 17.966 per dolar AS [titlebase] menandai penurunan 127,5 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Jika tren ini berlanjut, level psikologis Rp 18.000 per dolar AS dapat ditembus, yang sebelumnya menjadi batas penting bagi pelaku pasar. Pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, Ibrahim Assuaibi memperkirakan rentang fluktuasi antara Rp 17.960‑Rp 18.030, mengindikasikan risiko penembusan lebih jauh.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami penurunan signifikan pada hari yang sama, anjlok 254,36 poin atau 4,10 persen ke level 5.941,066. Purbaya menilai penurunan ini sebagian dipicu oleh rumor pasar, termasuk spekulasi downgrade oleh S&P. Namun, ia menekankan bahwa penurunan IHSG bersifat sementara mengingat kondisi ekonomi yang masih solid.

Bank Indonesia belum mengumumkan intervensi langsung, namun tetap memantau pergerakan nilai tukar. Kebijakan moneter domestik masih mengedepankan stabilitas inflasi dan pertumbuhan. Sementara itu, pasar internasional terus menilai data tenaga kerja AS yang menunjukkan peningkatan lowongan kerja pada April 2026, menambah keyakinan bahwa pasar kerja AS tetap kuat.

Secara keseluruhan, kombinasi ketegangan geopolitik, harga minyak yang naik, dan ekspektasi kebijakan moneter AS menciptakan lingkungan yang menantang bagi rupiah. Pemerintah dan otoritas moneter berupaya menjaga kestabilan, namun tekanan eksternal tetap menjadi faktor dominan.

Rupiah ditutup melemah 0,71 persen ke Rp 17.966 per dolar AS [titlebase] mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh faktor global dan domestik. Pengamat menilai bahwa langkah kebijakan selanjutnya akan sangat tergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah dan keputusan kebijakan moneter The Fed.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup