Bentuk Tim Pengadaan Batu Bara untuk PLN, Bahlil: Sudah Capek Ngomong Sana Lain, Sini Lain

Bentuk Tim Pengadaan Batu Bara untuk PLN, Bahlil: Sudah Capek Ngomong Sana Lain, Sini Lain

Plat Merah – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akhirnya mengambil langkah tegas dengan membentuk tim pengadaan batu bara khusus untuk PT PLN (Persero). Dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR, Bahlil mengungkapkan kekesalannya atas ketidaksesuaian data pasokan batu bara yang selama ini terjadi. “Bentuk tim pengadaan batu bara untuk PLN, Bahlil: Sudah capek ngomong sana lain, sini lain,” ujarnya, menandai titik balik dalam pengawasan energi primer nasional.

Langkah ini dipicu oleh temuan bahwa kontrak batu bara PLN masih kurang 20 juta ton dari total kebutuhan 154 juta ton per tahun. Dari penugasan pemerintah sebesar 190 juta ton, baru 134 juta ton yang terkontrak. Bahlil mengakui bahwa PLN membutuhkan batu bara berkalori medium yang semakin langka. “Bentuk tim pengadaan batu bara untuk PLN, Bahlil: Sudah capek ngomong sana lain, sini lain,” tegasnya di depan anggota dewan.

Presiden Prabowo Subianto secara langsung mengarahkan pembentukan tim yang terdiri dari Inspektorat Jenderal Kementerian ESDM, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Tujuannya untuk memastikan tidak ada lagi kebohongan dalam rantai pasok. “Bentuk tim pengadaan batu bara untuk PLN, Bahlil: Sudah capek ngomong sana lain, sini lain,” kata Bahlil menirukan arahan presiden.

Kebijakan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PP HIMMAH) menilai langkah Bahlil sebagai awal perbaikan tata kelola PLN. Namun, kritik datang dari Sentinel Energy Indonesia (SEI) yang menyebut perubahan kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menjadi tahunan justru mengganggu pasokan. SEI mencatat produksi batu bara ditekan dari 900 juta ton menjadi 600 juta ton per tahun, menyebabkan ketidakpastian di hulu.

Bahlil membantah tudingan bahwa pemadaman listrik di Jawa disebabkan kelangkaan batu bara. Ia menegaskan pasokan aman dan gangguan bersifat teknis. Namun, data menunjukkan Hari Operasi Pembangkit (HOP) di beberapa PLTU menurun drastis. Pemerintah tetap optimis tim baru dapat menyelesaikan masalah. “Kita tidak mau baku tipu lagi,” tutup Bahlil.

Kesimpulannya, pembentukan tim pengadaan batu bara ini diharapkan mampu mengakhiri polemik pasokan energi primer yang berkepanjangan. Dengan pengawasan ketat, pasokan listrik nasional diharapkan lebih stabil dan transparan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup