Prabowo di Akad Rumah Subsidi: Belajar dari India, Instruksi Jaga Sungai, dan Bunga KPR Tetap 5 Persen
PlatMerah.com, Batang – Presiden Prabowo Subianto menghadiri akad massal Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi di Batang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026). Dalam pidatonya, ia menyinggung keberhasilan India membangun 40 juta rumah dalam 12 tahun, meminta para pemimpin daerah rutin memantau sungai, dan memastikan bunga KPR subsidi tetap 5 persen.
Acara ini menjadi momen penting bagi program perumahan rakyat, sekaligus ajang Prabowo menyampaikan sejumlah arahan terkait pembangunan dan kebersihan lingkungan.
Belajar dari India untuk Percepat Pembangunan Rumah
Prabowo mengaku sedang mempelajari pengalaman India yang mampu membangun sekitar 40 juta rumah dalam 12 tahun, atau rata-rata 3 juta rumah per tahun. Menurutnya, Indonesia perlu berani belajar dari negara lain untuk mempercepat penyediaan hunian bagi masyarakat.
“Saya tertarik pada pengalaman bangsa India. Mereka mampu membangun 40 juta rumah dalam 12 tahun, atau kira-kira 3 juta rumah setiap tahun. Ini sedang saya pelajari, bagaimana caranya. Ada teknik-teknik tertentu, dan ini bisa kita coba,” ujar Prabowo.
Pemerintah telah mengirim tim ke sejumlah negara, termasuk Tiongkok, India, dan Mesir, untuk mempelajari praktik terbaik di bidang perumahan. Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh malu belajar dari siapa pun demi kemajuan bangsa.
“Kalau bangsa kita mau bangkit dan bertransformasi, kita tidak boleh malu untuk belajar dari siapa pun,” tegasnya.
Instruksi Rutin Memantau Sungai dan Kebersihan Lingkungan
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo menginstruksikan para kepala daerah hingga aparat keamanan untuk turun langsung memantau kondisi sungai dan lingkungan setiap hari. Ia mencontohkan bahwa pemimpin yang hebat adalah yang hadir di lapangan dan memastikan lingkungan tetap bersih.
“Gubernur yang hebat, bupati yang hebat, wali kota yang hebat, Pangdam yang hebat, Kapolda yang hebat, Dandim, Kapolres, hingga Kapolsek harus setiap hari mengecek sungai dan kali. Itulah pemimpin yang hebat,” kata Prabowo.
Ia meminta para pemimpin meluangkan minimal satu jam setiap hari untuk berkeliling bersama rakyat. Jika ada warga atau pelaku usaha yang tidak menjaga kebersihan, Prabowo meminta agar ditegur. Apabila teguran tidak diindahkan, ia memerintahkan pelibatan tim gabungan Kejaksaan dan Polri.
“Kalau sudah berkali-kali ditegur tetapi tidak berubah, panggil tim gabungan. Tim gabungan Kejaksaan dan Polri. Saya serius,” tegasnya.
Bunga KPR Subsidi Tetap 5 Persen
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait yang turut hadir memastikan bahwa bunga KPR subsidi tetap dipertahankan sebesar 5 persen, meskipun suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) berada di level 5,75 persen.
“Meskipun BI Rate saat ini berada di level 5,75 persen, bunga KPR rumah subsidi tetap 5 persen,” ujar Maruarar.
Selain bunga rendah, pemerintah juga menetapkan uang muka (DP) rumah subsidi hanya 1 persen. Fasilitas KPR subsidi juga dilengkapi perlindungan asuransi bagi debitur. Kebijakan ini diambil untuk menjaga keterjangkauan akses perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Maruarar menambahkan, pemerintah memberikan berbagai insentif di sektor perumahan, seperti pembebasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) gratis, dan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).
Ekonomi Tidak Bisa Dipisahkan dari Politik, Budaya, dan Agama
Dalam pidatonya, Prabowo juga menyinggung konsep nation building atau pembangunan bangsa. Ia menegaskan bahwa ekonomi tidak bisa dipisahkan dari politik, budaya, hingga agama.
“Dalam proses ini (pembangunan bangsa), sejarah peradaban manusia mengajarkan kepada kita bahwa ekonomi tidak bisa dipisahkan dari politik, dari budaya, bahkan dari agama,” ujarnya dalam pertemuan dengan pengusaha Kamar Dagang dan Industri (KADIN) di Istana, Jumat (31/7/2026).
Menurut Prabowo, nation building merupakan pembangunan lintas sektor yang membutuhkan kekuatan dari bangsa tersebut untuk dipersatukan dan memanfaatkan semua sumber daya yang ada. Ia juga meminta Indonesia belajar dari sejarah bangsa yang berhasil maupun gagal, termasuk konsep failed state.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












