Lewat WUJA, 1.000 Perwakilan Alumni Jesuit Diajak Mengenal Budaya Yogyakarta

Lewat WUJA, 1.000 Perwakilan Alumni Jesuit Diajak Mengenal Budaya Yogyakarta

PlatMerah.com, Yogyakarta – Sekitar 1.000 perwakilan alumni Jesuit dari 57 negara berkumpul di Yogyakarta dalam rangka World Union of Jesuit Alumni (WUJA) Congress 2026 yang berlangsung dari 29 Juli hingga 2 Agustus 2026. Selain mengikuti rangkaian kongres di Universitas Sanata Dharma, para peserta juga diajak mengenal budaya dan kehidupan masyarakat Jogja secara langsung.

Rangkaian Kegiatan dan Destinasi Budaya

Para delegasi WUJA dijadwalkan mengunjungi sejumlah destinasi budaya dan religi di sekitar Yogyakarta dan sekitarnya. Beberapa tempat yang menjadi tujuan antara lain:

  • Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran, Bantul, yang memadukan tradisi Katolik dengan budaya Jawa.
  • Candi Prambanan, salah satu warisan budaya Hindu terbesar di Indonesia.
  • Candi Borobudur di Magelang, Situs Warisan Dunia UNESCO yang terkenal.

Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi para peserta untuk memahami keberagaman budaya dan sejarah yang kaya di Indonesia, khususnya di Yogyakarta.

Peran Universitas Sanata Dharma sebagai Tuan Rumah

Universitas Sanata Dharma, satu-satunya universitas Jesuit di Indonesia, dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan WUJA Congress 2026. Auditorium Driyarkara menjadi pusat kegiatan kongres selama lima hari, yang meliputi sesi konferensi, diskusi, dan pembahasan agenda organisasi alumni Jesuit dunia.

Komentar Tokoh dan Narasumber

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, hadir pada hari kedua kongres dan menyampaikan bahwa menjadi tuan rumah bukan sekadar menerima tamu, tetapi membuka ruang persaudaraan lintas bangsa. Ia menekankan pentingnya menyambut tamu dengan hati terbuka, sesuai dengan tata batin Jawa.

Albertus Bagus Laksana, Provincial Serikat Jesus Indonesia, menambahkan bahwa Yogyakarta adalah lokasi tepat untuk pertemuan ini karena karakter kota yang kaya budaya dan pendidikan serta sejarah panjang dalam mempertemukan berbagai latar belakang masyarakat.

Pengalaman Peserta

Beberapa peserta mengaku terkesan dengan kesempatan mengenal budaya Yogyakarta. Herman dari Republik Demokratik Kongo menyebutkan bahwa perjalanannya selama 18 jam bukan hanya untuk menghadiri kongres, tetapi juga untuk melihat kehidupan masyarakat dan budaya setempat. Jeffrey dari India juga menyatakan kekagumannya atas kebanggaan masyarakat Yogyakarta terhadap warisan budaya mereka.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup