SDN di Tengah Kota Semarang Mulai Ditinggalkan, Ada yang Hanya Dapat 9 Pendaftar
Plat Merah – Fenomena sepinya peminat sekolah dasar negeri (SDN) di tengah kota Semarang mulai terlihat jelas pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Beberapa SDN di pusat kota hanya kebanjiran sedikit pendaftar, bahkan ada yang hanya mendapat 9 pendaftar. Kondisi ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan di Ibu Kota Jawa Tengah.
Data dari Dinas Pendidikan Kota Semarang menunjukkan bahwa sejumlah SDN di wilayah padat penduduk seperti Semarang Timur dan Semarang Selatan mengalami penurunan drastis jumlah pendaftar. Salah satu sekolah bahkan hanya mencatatkan 9 pendaftar untuk seluruh kelas I, padahal kuota yang tersedia mencapai 28 kursi. Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Muhammad Ahsan, mengakui bahwa tren ini sudah berlangsung beberapa tahun terakhir. “Kami terus memantau dan berupaya melakukan intervensi, namun faktor demografi dan preferensi orang tua menjadi tantangan,” ujarnya.
Fenomena SDN di tengah kota Semarang mulai ditinggalkan ini tidak hanya terjadi di Semarang. Di Kabupaten Magelang, SDN Soka 2 hanya memiliki 4 murid dan tahun ini tidak mendapat satu pun pendaftar baru. Sekolah tersebut terancam ditutup jika tidak ada regrouping. Guru di sana, Pranta Susyanta, mengungkapkan bahwa desas-desus penutupan membuat orang tua enggan mendaftarkan anaknya. “Masyarakat tahunya Soka 2 segera tutup. Jadi, orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah lain,” katanya.
Sementara itu, di Kota Bogor, kisah sukses revitalisasi sekolah justru mampu membalikkan keadaan. SDN Cimahpar 5 yang sebelumnya sepi peminat, setelah mendapatkan bantuan dana revitalisasi sebesar Rp2,6 miliar dari Kemendikdasmen, kuota pendaftarannya penuh dalam satu hari pada SPMB 2025. Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan fasilitas dan citra sekolah dapat meningkatkan minat masyarakat.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Semarang membuka 6.000 kursi sekolah swasta gratis bagi siswa kurang mampu melalui SPMB 2026. Program ini diharapkan dapat membantu warga desil 1-5 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk tetap mendapatkan pendidikan berkualitas. Namun, program ini juga menjadi salah satu faktor yang membuat SDN di tengah kota Semarang mulai ditinggalkan, karena orang tua lebih memilih sekolah swasta gratis yang dianggap lebih baik.
Fenomena SDN di tengah kota Semarang mulai ditinggalkan juga dipengaruhi oleh maraknya informasi hoaks di media sosial. Kepala Diskominfo Jateng, Lilik, mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya dengan konten viral yang belum terverifikasi. Akademisi Udinus, Swita Amallia Hapsari, menambahkan bahwa kreator digital harus lebih bertanggung jawab dalam menyebarkan informasi. “Ketika konten memicu kegaduhan, sering kali muncul alasan bahwa itu hanya opini pribadi. Padahal dampaknya bisa merugikan masyarakat,” ujarnya.
Pakar psikologi digital juga menyoroti fenomena info overload yang membuat publik mudah lelah dan bingung. Dalam situasi seperti ini, orang tua cenderung memilih sekolah yang sudah dikenal atau memiliki reputasi baik, sehingga SDN yang kurang populer semakin ditinggalkan.
Kesimpulannya, fenomena SDN di tengah kota Semarang mulai ditinggalkan merupakan masalah kompleks yang melibatkan faktor demografi, preferensi orang tua, program pemerintah, dan pengaruh media sosial. Diperlukan strategi komprehensif dari pemerintah daerah, seperti revitalisasi sekolah, peningkatan kualitas pembelajaran, dan kampanye literasi digital, untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap SDN. Tanpa tindakan nyata, bukan tidak mungkin semakin banyak SDN yang hanya kebanjiran sedikit pendaftar, bahkan terancam ditutup.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













