Kadisdik Kalteng Tolak Liburkan Sekolah Demi Operasional Dapur MBG dan Kantin, Menkes Beri Respons Kesehatan

Kadisdik Kalteng Tolak Liburkan Sekolah Demi Operasional Dapur MBG dan Kantin, Menkes Beri Respons Kesehatan

PlatMerah.com, Kalimantan Tengah – Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah (Kadisdik Kalteng), Muhammad Reza Prabowo, menolak kebijakan untuk meliburkan sekolah di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penolakan ini didasarkan pada kekhawatiran akan berhentinya operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kantin sekolah yang selama ini mendukung kebutuhan gizi siswa.

Dalam sebuah rekaman rapat Dinas Pendidikan Kalteng yang viral, Reza Prabowo menyatakan bahwa peliburan sekolah akan menyebabkan dapur MBG dan kantin tidak beroperasi. Ia juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa anak-anak yang belajar dari rumah berpotensi menghabiskan waktu di kafe-kafe, sehingga pihaknya berencana mengatur jam masuk sekolah pukul 08.00 untuk mengantisipasi hal tersebut.

Respons Gubernur dan Kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh

Setelah viralnya pernyataan Kadisdik, Gubernur Kalimantan Tengah turun tangan dengan menerbitkan surat edaran yang mengatur Penyelenggaraan Layanan Pendidikan di Daerah Terdampak Asap Karhutla. Surat edaran ini menetapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) mulai 31 Agustus 2026, dengan harapan orang tua dapat mengawasi anak-anak agar tidak melakukan aktivitas di luar rumah selama masa tersebut. Kebijakan ini akan dievaluasi secara berkala setiap tiga hari untuk menentukan langkah selanjutnya.

Menanggapi Isu Kesehatan, Menkes Jelaskan Langkah Pemerintah

Menteri Kesehatan (Menkes) memberikan tanggapan terkait viralnya kebijakan sekolah yang tetap beraktivitas di tengah kabut asap. Menkes menegaskan bahwa keputusan peliburan sekolah bukan berada di bawah kewenangannya. Namun, dari sisi kesehatan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk melindungi masyarakat, termasuk pengiriman lebih dari 5 juta masker dan oksigen konsentrator ke wilayah terdampak.

Menkes menjelaskan bahwa paparan polusi udara berbahaya, terutama partikel PM2.5, dapat terjadi baik di dalam rumah maupun di sekolah. Oleh karena itu, penggunaan masker menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan. Ia menekankan pentingnya memakai masker agar partikel berbahaya dapat tersaring dengan baik.

Konteks dan Dampak Kebijakan

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan Tengah menyebabkan kualitas udara memburuk, memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan terutama pada anak-anak di lingkungan sekolah. Kebijakan peliburan sekolah bertujuan untuk meminimalkan paparan polusi, tetapi juga berdampak pada program dapur MBG dan kantin yang menyediakan nutrisi penting bagi siswa.

Pertimbangan antara kesehatan dan keberlanjutan operasional dapur MBG menjadi dilema bagi pemerintah daerah. Peliburan sekolah dapat mengurangi risiko paparan asap namun juga menghambat distribusi makanan bergizi yang penting untuk tumbuh kembang anak. Surat edaran gubernur yang mengatur PJJ dan pengawasan orang tua diharapkan dapat menjadi solusi tengah yang menyeimbangkan kedua aspek tersebut.

Langkah evaluasi berkala atas kebijakan ini penting untuk menyesuaikan kondisi di lapangan dan memastikan perlindungan maksimal bagi siswa dan masyarakat luas di tengah situasi karhutla yang masih berlangsung.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup