APBN shock absorber Jadi Penopang Utama Indonesia Hadapi Geopolitik Tak Pasti, Kata Purbaya
Plat Merah – Hadapi ketidakpastian geopolitik, Purbaya sebut APBN Indonesia jadi shock absorber kuat [titlebase] dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta pada Jumat (5/6/2026). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kebijakan fiskal yang disiplin dan defisit yang dijaga di bawah 3% memberikan ruang bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menyerap goncangan eksternal tanpa mengorbankan stabilitas makroekonomi.
Purbaya menambahkan bahwa posisi Indonesia dalam kuadran risiko energi global berada pada eksposur rendah, berkat kedaulatan energi dan cadangan devisa yang kuat. Cadangan devisa mencapai USD 144,9 miliar, sementara surplus neraca perdagangan terus bertahan selama 72 bulan berturut‑turut, menegaskan ketahanan eksternal negara.
Data ekonomi terbaru menunjukkan pertumbuhan inklusif. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur berada pada level ekspansif 50,0, likuiditas M0 meningkat 14,8% YoY, dan kredit perbankan tumbuh 11,5% YoY. Penciptaan lapangan kerja baru sekitar 1,9 juta orang menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka menjadi 4,68% pada 2026. Di sisi sosial, tingkat kemiskinan turun dari 8,57% pada September 2024 menjadi 8,25% pada September 2025 berkat program perlindungan sosial yang efektif.
Hadapi ketidakpastian geopolitik, Purbaya sebut APBN Indonesia jadi shock absorber kuat [titlebase] karena kebijakan fiskal yang hati‑hati memberikan bantalan bagi perekonomian menghadapi fluktuasi harga energi global dan ketegangan geopolitik. Kebijakan ini didukung oleh delapan kluster program kerja prioritas nasional, mencakup kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, perumahan, serta ketangguhan bencana.
Dalam rangka memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional, Purbaya juga menyoroti upaya mempercepat perizinan Panda Bond RI melalui kerja sama dengan People’s Bank of China (PBOC). Langkah ini diharapkan membuka akses pembiayaan baru dan mendiversifikasi sumber pendanaan eksternal.
Para analis menilai bahwa strategi fiskal yang berimbang dan fokus pada investasi produktif akan menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil di tengah ketidakpastian geopolitik. Dengan APBN berperan sebagai shock absorber, Indonesia dapat meredam dampak eksternal tanpa mengorbankan agenda pembangunan jangka panjang.
Hadapi ketidakpastian geopolitik, Purbaya sebut APBN Indonesia jadi shock absorber kuat [titlebase] menjadi pesan kunci dalam upaya pemerintah menegaskan kesiapan fiskal negara. Komitmen ini diharapkan meningkatkan kepercayaan investor dan memperkuat posisi Indonesia sebagai ekonomi yang tangguh di kawasan Asia Tenggara.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












