Giri Prasta Tekankan Pembangunan Bali Berbasis Ekonomi Kerthi: Transformasi, Investasi, dan Lingkungan
Visi Besar di Balik Ekonomi Kerthi
Plat Merah – Dalam rapat konsultasi yang digelar di Sanur pada 2 Juli 2026, Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta menegaskan kembali komitmen Pemerintah Provinsi Bali untuk menata kembali struktur ekonomi pulau dengan mengedepankan Ekonomi Kerthi. Konsep ini menggabungkan tiga pilar utama: pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pelestarian budaya, serta keberlanjutan lingkungan. Giri Prasta menyoroti bahwa Bali, sebagai destinasi wisata dunia, kini harus bertransformasi menjadi ekonomi yang tidak hanya bergantung pada kedatangan wisatawan, melainkan pada nilai tambah lokal yang berkelanjutan.
Latar Belakang dan Urgensi Transformasi
Sejak era pasca‑pandemi, Bali mengalami fluktuasi tajam dalam kunjungan wisatawan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan rata‑rata kunjungan sebesar 12 % pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Di samping itu, tekanan pada sumber daya alam – terutama air bersih dan lahan pertanian – semakin mengancam kelestarian ekosistem. Giri Prasta mengutip laporan Kementerian Lingkungan Hidup yang menyebutkan bahwa Bali berada pada titik kritis dalam pencapaian target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2030.
Strategi Investasi Berkualitas
- Ekosistem satu pintu: Pembentukan Badan Investasi Bali (BIB) yang menyatukan perizinan, pembiayaan, dan pendampingan teknis.
- Akselerasi digital: Pengembangan platform digital untuk promosi investasi, data pasar, dan pelaporan ESG.
- Kolaborasi lintas institusi: Sinergi antara Dinas Pariwisata, Dinas Pertanian, dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) untuk memetakan peluang investasi yang selaras dengan karakteristik pulau.
- Pemetaan prioritas: Identifikasi sektor‑sektor strategis yang memiliki potensi nilai tambah tinggi dan dampak sosial‑ekologis positif.
Sektor Prioritas dalam Ekonomi Kerthi
| Sektor | Target Investasi (USD Miliar) | Dampak Utama |
|---|---|---|
| Pertanian Organik & Agrowisata | 2,5 | Peningkatan pendapatan petani, diversifikasi produk, pengurangan jejak karbon. |
| Energi Bersih (PLTS Atap, Biomassa) | 1,8 | Pengurangan ketergantungan pada BBM, pencapaian Bali Mandiri Energi. |
| Industri Berbasis Budaya | 1,2 | Penguatan warisan seni, penciptaan lapangan kerja kreatif. |
| Ekonomi Kreatif & Digital | 3,0 | Ekspansi startup, akses pasar global, peningkatan nilai ekspor jasa. |
| Pariwisata Budaya & Wellness | 4,0 | Diversifikasi produk wisata, peningkatan durasi tinggal, nilai rata‑rata pengeluaran. |
Pembangunan Infrastruktur Ramah Lingkungan
Infrastruktur menjadi tulang punggung bagi semua sektor yang disebutkan. Pemerintah Provinsi menargetkan pembangunan:
- Jalan baru dan underpass yang menggunakan material daur ulang, memperbaiki konektivitas antar wilayah.
- Pengembangan pelabuhan mikro di Bali Timur, Utara, Barat, dan Selatan yang dilengkapi dengan teknologi pengelolaan limbah laut.
- Integrasi transportasi darat, laut, dan udara melalui sistem tiket terpadu yang memprioritaskan kendaraan listrik dan bus berbahan bakar hidrogen.
Seluruh proyek diharapkan dapat menurunkan emisi CO₂ transportasi sebesar 15 % pada akhir 2028.
Peran DPD dan Sinergi Nasional‑Regional
Wakil Ketua DPD RI, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, menekankan pentingnya menempatkan daerah sebagai subjek utama pembangunan, bukan sekadar lokasi pelaksanaan. Dalam pandangannya, kebijakan investasi harus menilai tidak hanya nilai realisasi, melainkan juga kontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah sumber daya lokal, dan pemerataan kesejahteraan.
DPD RI berjanji akan mengirimkan rekomendasi kebijakan yang menyesuaikan program nasional dengan kebutuhan spesifik Bali, terutama dalam hal alokasi anggaran dan regulasi lingkungan.
Dampak Bagi Masyarakat dan Industri
- Pekerjaan: Proyeksi penciptaan 45.000 lapangan kerja baru dalam lima tahun, terutama di sektor pertanian organik, energi bersih, dan ekonomi digital.
- Kesejahteraan: Peningkatan pendapatan rata‑rata keluarga petani diprediksi naik 18 % berkat premium harga produk organik.
- Lingkungan: Penanaman kembali hutan mangrove di kawasan pantai selatan diharapkan menyerap 1,2 juta ton CO₂ per tahun.
- Budaya: Program pelestarian seni tradisional melalui pendanaan studio kreatif akan menghidupkan kembali 15 bentuk seni yang terancam punah.
Prospek dan Tantangan ke Depan
Walaupun roadmap sudah terstruktur, tantangan utama tetap pada koordinasi antar‑instansi dan kepastian regulasi investasi. Giri Prasta mengakui perlunya reformasi birokrasi yang lebih cepat, serta pelibatan sektor swasta dalam pembiayaan infrastruktur hijau. Di sisi lain, dukungan kuat dari DPD serta minat investor internasional pada sektor energi terbarukan memberikan sinyal positif bahwa Bali dapat menjadi laboratorium kebijakan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Dengan menempatkan Ekonomi Kerthi sebagai landasan strategis, Bali berambisi tidak hanya menjadi tujuan wisata, melainkan model ekonomi daerah yang resilien, inovatif, dan selaras dengan alam serta warisan budayanya. Langkah konkret yang diambil sekarang akan menentukan apakah pulau Dewata mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan untuk generasi yang akan datang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













