KH Zulfa Mustofa Sebut 5 Caketum Sepakat Usul Pemilihan Ketum lewat AHWA
PlatMerah.com, Jombang – Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Mustofa, mengungkapkan bahwa lima kandidat Ketua Umum PBNU sepakat menggunakan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam pemilihan Ketua Umum pada Muktamar ke-35 NU. Mekanisme ini dipilih untuk menggabungkan proses pemilihan dan seleksi, serta memperkuat supremasi Syuriyah dalam struktur organisasi NU.
Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU melalui AHWA
Zulfa menjelaskan bahwa usulan pemilihan melalui AHWA dimulai dari pengusulan nama calon oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU). Selanjutnya, lima nama calon yang muncul akan diseleksi oleh Rais Aam bersama AHWA untuk menentukan keputusan akhir.
“Ini dimulai dari usulan nama calon yang melibatkan PCNU. Kemudian, lima nama tersebut diseleksi oleh Rais Aam dan AHWA,” ujar Zulfa di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026).
Peran Syuriyah dan Tanfidziyah dalam Struktur NU
Zulfa menegaskan posisi Syuriyah sebagai pimpinan tertinggi di NU, sedangkan Tanfidziyah berperan menjalankan kebijakan yang telah dirumuskan oleh Syuriyah. Menurutnya, mekanisme AHWA akan memperkuat posisi Syuriyah dalam mengawal kepemimpinan Tanfidziyah.
“Dengan sistem penunjukan AHWA, maka supremasi Syuriyah akan sangat kuat,” kata Zulfa.
Selain itu, mekanisme ini juga memungkinkan Rais Aam dan AHWA mengevaluasi Ketua Umum Tanfidziyah jika dinilai melakukan pelanggaran terhadap ketentuan atau kebijakan Syuriyah.
Dinamika dan Isu Menjelang Muktamar ke-35 NU
Zulfa juga menyinggung berbagai dinamika yang terjadi menjelang Muktamar ke-35 NU, termasuk isu pemberian sesuatu kepada peserta yang dinilai tidak menyenangkan. Ia berharap mekanisme AHWA dapat menciptakan proses pemilihan yang lebih teduh dan menghilangkan praktik seperti “karantina” atau “penculikan” peserta Muktamar.
“Kami berharap ke depan muktamar tidak perlu lagi ada yang disebut karantina atau penculikan, sehingga NU dapat bermuktamar dengan suasana teduh dan pemimpin yang terpilih benar-benar diinginkan oleh Tanfidziyah dan Syuriyah,” ungkap Zulfa.
Zulfa juga mengingatkan risiko pemilihan langsung yang dapat membuat calon Ketua Umum Tanfidziyah memiliki basis dukungan bukan semata kapasitas dan kapabilitas, bahkan berpotensi adanya intervensi pihak eksternal.
Status Mekanisme Pemilihan Ketua Umum PBNU
Sekretaris Jenderal PBNU sekaligus Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menegaskan bahwa mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU saat ini masih berupa draf materi yang disepakati dalam Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU, dan belum menjadi keputusan final.
“Mekanisme pemilihan masih dalam pembahasan dua opsi, yakni one man one vote dan melalui AHWA. Belum ada keputusan final,” ujar Gus Ipul.
Kesimpulan
Pemilihan Ketua Umum PBNU melalui mekanisme AHWA diusulkan untuk menyatukan proses pemilihan dan seleksi serta memperkuat peran Syuriyah dalam struktur NU. Mekanisme ini dinilai mampu menjaga kestabilan kepemimpinan dan menghindari intervensi eksternal dalam pemilihan. Namun, keputusan resmi mengenai mekanisme pemilihan Ketum PBNU masih menunggu hasil final Muktamar ke-35 NU.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











